Breaking News:

Berita Gresik

Kondisi Terbaru 2 Anak Yatim di Gresik yang Dianiaya di Panti Asuhan, Tinggal di Kos Berlantai Tanah

Kondisi 2 bocah yatim korban penganiayaan anak pemilik panti asuhan di daerah Munggugebang, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur cukup memi

Penulis: Willy Abraham | Editor: Musahadah
surya/willy abraham
2 anak yatim di Gresik korban penganiayaan di panti asuhan Kecamatan Benjeng kini tinggal di kos daerah Kebomas. 

Syaikhu telah mendatangi tempat tinggal korban yang berada di sebuah rumah kos di kawasan Kebomas.

Saat itu, ditemui oleh nenek korban bernama Fatimah(60).

Korban beserta ibunya sedang keluar rumah menemui keluarga yang ikut prihatin atas musibah tersebut. 

Sang nenek yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART), mengaku tak kuat hati melihat kondisi kedua cucunya.

Maksut hati, kedua cucunya mendapatkan pendidikan yang layak di panti asuhan, malah berujung tindakan kekerasan.

Hingga mengalami luka di sekujur badan. Bahkan, setelah empat hari setelah dijemput pulang dari panti asuhan, kedua bocah yang berumur belasan tahun itu masih merasakan luka memar di kepala, punggung, hingga kaki. 

“Tentu saya prihatin apalagi ini menimpa orang kecil, orang dhuafa yang selama ini wajib diayomi Pemerintah. Ini wajib diayomi, didampingi,” ucap anggota Fraksi PKB DPRD Gresik ini, Jumat (6/8/2021).

Setelah menemui keluarga korban, pihaknya langsung menuju Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) di Jalan DR Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Kebomas, Gresik.

Disana, dia meminta agar korban terus diberi pendampingan. Apalagi kasus ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian.  

Melalui Pusat Perlindungan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) sudah mendampingi kedua korban. Bahkan ikut mendampingi kedua korban saat berada di kantor polisi. 

“Terkait dengan laporan semacam ini saya bersyukur mereka menangani. Artinya ada langkah pro aktif. Langkah yang perlu kita tekankan, P2TP2A berkewajiban memberikan perlindungan kepada anak. Ini yang paling penting, karena dampak kekerasan paling bisa berlanjut sampai masa depannya, P2TPA2 waji mendampingi baik itu elakoni advokasi anak berhadapan dengan hukum melindungi melalui proses hukum, harus juga memberikan pemulihan psikologi. Jangan sampai ada kasus psikologis berkepanjangan dari kasus ini,” tuturnya. 

Kronologi kejadian 

Berdasarkan informasi yang dihimpun surya.co.id, kasus penganiayaan itu bermula saat salah satu korban bermain salah satu mesin capitan boneka.

Saat itu lah, dia  mengambil hadiah dari mesin game pengambil boneka karena gagal berkali-kali memainkan permainan tersebut.

Setelah itu, hadiah mainan itu dikembalikan lagi.

Beberapa jam kemudian, pihak pengurus panti asuhan mengetahui.

Melakukan tindakan kekerasan secara membabi buta.

Terduga pelaku berinisial M ini langsung memukul korban yang masih kecil itu dengan sabetan kabel berulang kali.

Kedua bocah itu sudah menangis meminta maaf bahkan memohon ampun namun tidak menghentikan aksi kekerasan itu hingga korban berdarah-darah di bagian paha.

Iskandar Rasyid (40) , seorang kerabat korban mengaku geram dengan ulah anak pemilik panti asuhan.

Hanya karena masalah sepele, korban yang masih di bawah umur itu mengalami luka memar. Seperti mengalami penyiksaan.

Tidak hanya itu, korban MFS yang saat kejadian hanya menemani juga kena amuk.

Akibatnya, kedua anak itu mengalami babak belur akibat tindak kekerasan. DRS memar di bagian betis dan paha.

Lalu, MFS mengalami memar di bagian betis dan pelipis mata sebelah kanan. 

Luka memar di bagian kaki salah satu anak penghuni panti asuhan di Gresik, Rabu (4/8/2021)
Luka memar di bagian kaki salah satu anak penghuni panti asuhan di Gresik, Rabu (4/8/2021) (surya/willy abraham)

Dalam kejadian itu MFS sempat kabur dari panti asuhan dengan menahan rasa sakit di kakinya, berlari sekencang-kencangnya mencari pertolongan ke warga sekitar.

Namun pengurus panti mengejar meminta ia kembali ke asrama. 

“Korban diamankan, pihak panti datang dan diiming-imingi uang agar mau kembali dan tidak melaporkan peristiwa tersebut,” ucap Iskandar, Rabu (4/8/2021).

Kasus itu mulai terbongkar saat ibu dari kedua anak itu mengunjungi panti asuhan.

Melihat dua buah hatinya yang dititipkan di panti asuhan mendapat perlakuan seperti itu, dia langsung membawa pulang.

Sang ibu yang merupakan asisten rumah tangga hanya bisa mengelus dada.

Pendapatannya yang tidak seberapa membuatnya bertekad membesarkan dua buah hatinya. Sedangkan sang suami pergi entah kemana meninggalkan keluarga kecil ini.

Melihat anaknya dalam kondisi luka-luka, ibu korban melaporkan peristiwa ini ke ranah hukum. Beberapa korban termasuk Iskandar mendukung langkah tersebut.

Pasalnya, perlakuan yang dialami kedua bocah malang itu tidak manusiawi.

"Sudah dilaporkan ke Polres Gresik dan juga visum,” terangnya.

Iskandar  berharap kasus ini tidak terjadi lagi. Apalagu panti asuhan yang mestinya menjadi tempat aman bagi anak-anak. Apalagi mereka yang berada di sana, kebanyakan adalah anak broken home. 

Dihubungi terpisah Pengasuh Panti Asuhan Ruslan menyebut apa yang dilakukan M adalah tindakan emosional sesaat, bentuk kecerobohan.

Ruslan menyebut jika tidak ada tindak kekerasan ditempatnya. 

“Kami berupaya diselesaikan secara kekeluargaan. Iya itu merupakan kecerobohan dan tindakan spontanitas yang tidak dibenarkan. Ini baru pertama kali terjadi,” kata Ruslan melalui sambungan seluler.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved