Breaking News:

Berita Surabaya

Diserbu OTG, Rumah Sehat di 154 Kelurahan di Surabaya Sudah Merawat 1.600 Orang

Vitamin dan obat-obatan juga diberikan. Tenaga kesehatan akan memeriksa secara berkala untuk memastikan kondisi para pasien.

Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Deddy Humana
surya/bobby koloway
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat memantau salah satu Rumah Sehat di Surabaya. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pembentukan Rumah Sehat di tingkat kelurahan di seluruh Surabaya, ternyata banyak peminat. Terbukti sejak dibuka akhir Juli lalu, Sehat di Surabaya mulai diisi banyak pasien terindikasi Covid-19 tanpa gejala (OTG).

Dan hingga saat ini, sudah ada 1.607 orang yang dirawat yang semuanya adalah OTG. Keberadaan rumah sehat ini bertujuan untuk meminimalisir penularan dari klaster keluarga karena pasien menjalani isolasi di rumah.

"Data tersebut dihimpun dari seluruh rumah sehat yang ada di 154 kelurahan se-Surabaya. Jumlah di setiap rumah sehat berbeda," kata kata Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya, Febriadhitya Prajatara, Kamis (5/8/2021).

Warga yang drawat di rumah sehat mendapatkan sejumlah fasilitas. Di antaranya, makanan bergizi untuk tiga kali makan yang disediakan Pemkot Surabaya. Vitamin dan obat-obatan juga diberikan. Tenaga kesehatan akan memeriksa secara berkala untuk memastikan kondisi para pasien.

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di antaranya pengecekan saturasi oksigen. "Ini penting, kalau sangat rendah saturasi oksigennya, pasti akan dirujuk ke RS," kata Febri.

Untuk pasien dengan gejala lebih berat, pemkot menyediakan RS Darurat hingga RSUD. RS Darurat bahkan ada di dua tempat, yaitu RS Lapangan Tembak (RSLT) dan RS Indoor Gelora Bung Tomo (RSGBT).

Percepatan penanganan pasien dirasa penting. Sebab apabila terlambat, penanganan pasien akan lebih berat dan berakibat fatal.

Selain mendapat fasilitas yang memadai, warga yang tinggal Rumah sehat sekaligus melindungi keluarga dan lingkungannya. Keluarganya aman tanpa perlu khawatir tertular.

Beda halnya apabila warga yang memaksa isolasi mandiri di rumah. Tidak jarang, antar anggota keluarga lengah untuk menerapkan prokes.

"Satu-dua hari mungkin masih patuh prokes. Namun hari berikutnya berpotensi lengah. Perlu dicatat, peningkatan kasus Covid-19 salah satunya juga disebabkan klaster keluarga. Itulah yang harus diwaspadai," katanya.

Halaman
12
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved