Breaking News:

Berita Lumajang

Polisi Dalami Dugaan Penganiayaan Santri hingga Alami Kebutaan di Lumajang

Kepolisian Resort (Polres) Lumajang mendalami dugaan kasus penganiayaan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Gubug Al-Munir.

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Parmin
surya.co.id/tony hermawan
Prayogi Mulyadi menunjukkan laporan polisi atas dugaan penganiayaan dirinya, Senin (2/8/2021). 

SURYA.CO.ID | LUMAJANG - Kepolisian Resort (Polres) Lumajang mendalami dugaan kasus penganiayaan santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Gubug Al-Munir di Desa Sememu, Kecamatan Pasirian, Lumajang. Sejumlah saksi telah diperiksa dalam penyelidikan kasus yang melibatkan pengurus ponpes tersebut.

Diketahui, dugaan penganiayaan tersebut mencuat ke publik setelah korban bernama Prayogi Mulyadi mengunggah status di media sosial grup warga Lumajang.

Dalam utasannya, dia mengaku menjadi korban penganiayaan seorang pengurus pondok hingga menyebabkan mata kirinya buta.

Prayogi Mulyadi saat ditemui di kediamannya di kawasan Tempeh mengatakan, dugaan aksi kekerasan itu terjadi pada 3 April lalu. 

Mulanya, santri berusia 19 tahun itu mendapat tamparan beberapa kali di bagian muka sampai akhirnya terkena bagian mata sebelah kiri.

Penamparan itu terjadi karena dirinya bersama 10 orang temannya tidak mengikuti pengajian rutin. Sebab, dia mengaku sedang sakit sehingga memilih untuk absen.

Namun, alasan itu tidak diterima oleh pengasuh sampai terjadi aksi pemukulan.

Selang beberapa hari kemudian tamparan itu menyisakan rasa nyeri di mata kiri Prayogi. 

Sampai akhirnya pada 21 April dokter memeriksakan matanya di Rumah Sakit Bhayangkara. Dokter pun mendiagnosa mata Prayogi terjadi pendarahan dan harus segera dioperasi.

"Saya dipukul langsung tidak bisa melihat, mata rasanya cekot-cekot akhirnya saya periksa didiagnosa pendarahan," kata Prayogi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved