Breaking News:

Berita Surabaya

Dies Natalis ke-40, Unitomo Gelar Diskusi Lintas Negara, Bahas Keberlangsungan Bisnis Pariwisata

Sebagai salah satu rangkaian kegiatan semarak Dies Natalis Unitomo ke-40, Webinar Internasional diselenggarakan secara virtual melalui zoom meeting

Penulis: Zainal Arif | Editor: Cak Sur
Istimewa/Tangkapan layar
Rektor Unitomo, Dr Siti Marwiyah SH M H saat memberikan sambutan webinar internasional dalam rangka Dies Natalis Unitomo ke-40, Sabtu (31/7/2021). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya menggelar Diskusi Lintas Negara yang diikuti oleh Negara Jepang, Malaysia, Rusia dan Australia bertajuk "Menjaga Keberlangsungan Bisnis Pariwisata Selama dan Sesudah Pandemi”.

Sebagai salah satu rangkaian kegiatan semarak Dies Natalis Unitomo ke-40, Webinar Internasional diselenggarakan secara virtual melalui zoom meeting, Sabtu (31/7/2021).

Kegiatan yang diikuti 600 lebih partisipan ini dibuka oleh Rektor Unitomo, Siti Marwiyah.

Dalam sambutannya, Iyat, sapaan akrab Rektor Unitomo mengatakanm kegiatan ini menjadi ikhtiar Unitomo dalam memberikan edukasi ke masyarakat luas.

Terlebih dalam menyikapi masa sulit seperti saat ini, bagaimana upaya pelaku wisata atau sektor pariwisata mampu bertahan dan bangkit menghadapi pandemi.

“40 tahun menjadi usia yang matang bagi perguruan tinggi, sudah saatnya kami memberikan edukasi ke masyarakat melalui jejaring internasional untuk mendiskusikan hal-hal apakah yang strategis untuk direkomendasikan pada sejumlah stakeholder kepariwisataan khususnya di Indonesia," ungkap Doktor Bidang Hukum Tata Negara ini.

"Supaya dapat bertahan pada saat pandemi dan bangkit kembali setelah wabah corona melandai," tambah Iyat.

Ketua Pusat Studi Bencana dan Lingkungan (PSBL) sekaligus koordinator kegiatan webinar internasional, Hendro Wardhono menjelaskan, webinar ini digelar sebagai upaya merumuskan sejumlah alternatif kebijakan dan strategi untuk dapat mendorong seluruh stakeholder pariwisata.

"Dengan media ini, Unitomo memberikan edukasi untuk menghindari pemikiran negatif tentang segala kebijakan pemerintah agar potensi yang memicu instabilitas sosial dan politik baik pada tingkat lokal maupun nasional tidak terjadi," terangnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved