Breaking News:

Berita Nganjuk

Bupati Nganjuk Mulai Pusing, Kasus Corona Terus Bertambah Sedangkan Anggaran Tinggal Rp 5 Miliar

dengan kondisi anggaran penanganan Covid-19 yang semakin minim, maka pemkab berharap semua pihak termasuk nakes bersabar

Penulis: Ahmad Amru Muiz | Editor: Deddy Humana
surya/ahmad amru muiz
Plt Bupati Nganjuk, H Marhaen Djumadi. 

SURYA.CO.ID, NGANJUK - Dana penanganan dan dampak Covid-19 hasil refocusing di Nganjuk terancam habis setelah kini tersisa sekitar Rp 5 miliar. Menipisnya dana penanganan Covid-19 di Nganjuk karena wabah tidak kunjung berakhir dan kasus positif terus terjadi.

Plt Bupati Nganjuk, H Marhaen Djumadi mengatakan, pemkab pun berupaya maksimal untuk kembali menyediakan dana penanganan Covid-19. Di antaranya dengan kembali akan melakukan refocusing APBD untuk sejumlah pos program kegiatan.

"Dalam waktu dekat kami akan berkoordinasi dengan DPRD untuk kembali melakukan refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19 yang saat ini kondisinya semakin menipis," kata Marhaen, Jumat (30/7/2021).

Dijelaskan Marhaen, dana refocusing itu banyak digunakan untuk berbagai kegiatan penanganan Covid-19. Mulai penanganan langsung, rumah sakit, obat, dan vaksinasi.

Kebutuhan anggaran untuk kegiatan penanganan Corona itu cukup besar dan terus bertambah seiring terus bertambahnya kasus positif. Apalagi hampir sebulan terakhir terjadi lonjakan kasus positif yang luar biasa di Nganjuk.

"Makanya, kami pusing juga memikirkan anggaran untuk penanganan Covid-19 yang nilainya cukup besar dan terus berkembang," keluh Marhaen.

Selain itu, Marhaen memaparkan adanya kewajiban daerah untuk membayar insentif bagi tenaga kesehatan (nakes) dalam penanganan Covid-19, dan itu menjadi persoalan tersendiri.

Ini karena insentif untuk nakes yang awalnya dibayar dari pemerintah pusat dari APBN, mulai September hingga Desember 2020 telah dibebankan ke masing-masing pemda.

"Karena itu dana dari mana ketika pemda tiba-tiba diberi limpahan kewajiban insentif nakes. Kalau diambilkan dari APBD 2020 tidak memungkinkan dilakukan karena tidak ada pos anggarannya. Itulah yang menjadi sumber persoalan, mengapa insentif nakes belum cair," ucap Marhaen.

Kalau dikalkulasi setelah keluarnya aturan pemda boleh memakai Dana Alokasi Khusus (DAU), Dana Sisa Operasional Kesehatan, Dana Bagi Hasi sejak bulan Maret 2021, menurut Marhaen, maka dana untuk insentif nakes penanganan Covid-19 di Nganjuk hingga Desember 2021 nanti mencapai sekitar Rp 35 miliar.

"Kondisi anggaran yang demikian itu yang juga membuat kami pusing, belum lagi proses transfer anggaran dari pusat dengan proses dan administrasinya yang harus dipenuhi," urai Marhaen.

Untuk itu, dengan kondisi anggaran penanganan Covid-19 yang semakin minim, maka pemkab berharap semua pihak termasuk nakes bersabar dan tidak menjadikannya polemik berkepanjangan. Karena dipastikan semuanya bisa diselesaikan di tengah kesulitan yang terjadi sekarang ini.

"Dan kami mengharapkan semua pihak tetap ikut berpartisipasi dalam pencegahan penyebaran Covid-19 agar jumlah kasus menurun. Sehingga kebutuhan anggaran juga ikut turun," ujar Marhaen.

Sementara itu, kasus positif di Nganjuk hingga kini terus bertambah. Sampai per 29 Juli, telah mencapai 9.396 kasus positif atau terjadi penambahan sebanyak 104 kasus baru.

Sedangkan untuk kasus positif sembuh sebanyak 7.397 atau ada penambahan 155 sehari. Dan kasus positif meninggal sebanyak 515 orang atau ada penambahan 3 kasus. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved