Breaking News:

Berita Trenggalek

Data Dinkes, Kabupaten Trenggalek Alami Kasus Kematian Harian Akibat Covid-19 Tertinggi

Berdasarkan data yang diunggah Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Trenggalek pada 21 Juli 2021, angka kematian harian menyentuh 19 pasien.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Cak Sur
Istimewa
Update terkini kasus Covid-19 Kabupaten Trenggalek per Rabu 21 Juli 2021. 

SURYA.CO.ID, TRENGGALEK – Kabupaten Trenggalek mencatatkan kasus kematian pasien Covid-19 tertinggi.

Berdasarkan data yang diunggah Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Trenggalek pada 21 Juli 2021, angka kematian harian menyentuh 19 pasien.

Jumlah itu, menurut data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Trenggalek, adalah yang tertinggi selama pandemi Covid-19.

Dengan tambahan 19 pasien, jumlah akumulasi warga Trenggalek yang meninggal akibat virus Corona sebanyak 578 orang. Jika dipersentase, jumlah itu setara sekitar 10 persen dari total kasus Covid-19.

Sementara, jumlah kasus aktif sebanyak 533 orang (sekitar 10 persen) dan pasien sembuh 4.339 orang (sekitar 80 persen).

Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Trenggalek, Saeroni mengatakan, angka kematian rata-rata harian yang masih tinggi merupakan salah satu penyebab Trenggalek masuk ke zona merah penularan Covid-19.

Selain juga karena angka penambahan kasus Covid-19 yang juga masih tergolong tinggi.

Menurut Saeroni, tingginya angka kematian salah satunya disebabkan oleh banyaknya pasien yang datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi berat dan kritis.

“Kondisi parah semisal sudah lemas, sesak nafas, demam. Jadi saturasi oksigennya di bawah 90 persen,” kata Saeroni.

Menurut Saeroni, mayoritas pasien Covid-19 yang meninggal adalah mereka yang berusia di atas 40 tahun. Mayoritas dari mereka adalah pasien yang memiliki komorbit, alis penyakit penyerta.

Untuk menekan kasus kematian, Pemkab Trenggalek akan menggencarkan pelacakan kasus Covid-19 dengan cara menggencarkan rapid test antigen dan vaksinasi.

Pelacakan lewat rapid test antigen dilakukan agar pihaknya bisa mendeteksi lebih dini apabila ada warganya yang terpapar virus Corona.

“Kalau kurang dari lima hari (terpapar) dan diketahui, langkah cepat bisa dilakukan dengan memberikan obat dan perawatan intensif,” ujarnya.

Maka dari itu, pihaknya meminta agar warga tidak menolak saat pelacakan massal dilakukan di wilayahnya.

“Sebab kalau sudah terpapar lebih dari lima hari, kemudian daya tahan tubuhnya menurun, akhirnya lebih parah karena penanganannya tidak dari awal,” sambung Saeroni.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved