Breaking News:

Berita Bangkalan

4 Hari Ada Ratusan Penularan di Bangkalan, Warga Madura Terancam Tak Bisa 'Toron' Lebaran Kurban

Kiai Syarif bahkan menyebar imbauan dalam bentuk stiker yang dalam dua hari terakhir ramai dijadikan status profil WhatsApp (WA).

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Deddy Humana
surya/ahmad faisol
Stiker imbauan Ketua Umum MUI Kabupaten Bangkalan, KH Syarifuddin Damanhuri agar masyarakat Bangkalan ‘Tak Toron’ saat Lebaran Kurban. 

SURYA.CO.ID, BANGKALAN - Data yang mencatat penambahan kasus warga tertular Covid-19, terutama di Bangkalan, sepertinya sudah sulit dinalar. Sampai-sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bangkalan menyerukan agar masyarakat Madura tidak 'toron' (pulang kampung) saat Lebaran Idul Adha, 20 Juli depan.

Seruan itu disampaikan MUI bersama Polres Bangkalan, lantaran upaya
menekan angka penyebaran Covid-19 lewat skema PPKM darurat, ternyata tidak berhasil. Hingga hari ke-16 PPKM darurat, ada 258 kasus penularan dalam empat hari terakhir.

Kasus baru penularan Covid-19 berdasarkan Status Terkini Covid-19 Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan selama 13-16 Juni 2021 menyentuh angka 258.

Dan lima kecamatan masih terpancang di zona merah yaitu Kecamatan Kota, Socah, Kamal, Tragah, dan Tanjung Bumi pada update Peta Sebaran Covid-19 Kabupaten Bangkalan per 12-15 Juni 2021.

Sedangkan 13 kecamatan lainnya berstatus zona oranye atau beresiko sedang tingkat penyebaran Covid-19.

“Jadi kalau memang zona merah, berkerumun tidak boleh dalam bentuk apapun. Termasuk pelaksanaan Shalat Idul Adha karena khawatir masyarakat sulit ditertibkan. Kalau di zona tidak bahaya, diperbolehkan tetapi dengan disiplin prokes (protokol kesehatan),” ungkap Ketua Umum MUI Bangkalan, KH Syarifuddin Damanhuri kepada SURYA, Jumat (16/7/2021).

Kiai Syarif bahkan menyebar imbauan dalam bentuk stiker yang dalam dua hari terakhir ramai dijadikan status profil WhatsApp (WA). Berikut pesan dengan logo MUI, ‘Pesan Ulama, orang Madura khususnya Bangkalan, tidak perlu pulang kampung saat Idul Adha demi menjaga kesehatan dan meminimalisir penyebaran Covid-19’.

“Penyembelihan hewan kurban bisa dilakukan dengan prokes seperti pakai masker dan jaga jarak. Panitia diharapkan bisa mengantarkan kepada yang berhak menerima daging kurban atau disiapkan dengan memaksimalkan prokes,” tegas Kiai Syarif.

Pengasuh Ponpes (ponpes) Salafiyah Sa’adiyah, Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya itu pun merasakan besarnya dampak pandemi Covid-19 dan penerapan PPKM darurat. Bahkan sejak dua bulan terakhir, Kiai Syarif memutuskan untuk me-lockdown ponpesnya.

Ia memaparkan, aktifitas 800 lebih santri yang berdomisili di dalam ponpes dilakukan secara daring, proses mengaji kitab dan sesi tanya jawab dilakukannya dari dalam kamar melalui pengeras suara, hingga pembatasan kunjungan dari wali santri.

Halaman
12
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved