Breaking News:

DPRD Surabaya

Dewan Dorong Pemkot Surabaya Libatkan Kampung untuk Tracing dan Penegakan Prokes

Surabaya punya “Kampung Wani” sebagai model kampung tangguh guna memutus rantai penyebaran covid-19 melibatkan pengurus RT, RW, LPMK, dan tomas.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Parmin
Foto: humas pemkot surabaya
DARURAT – Sejumlah mobil ambulans dikerahkan saat penanganan darurat covid-19 di Kota Surabaya, Senin (12/7/2021). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Rekomendasi epidemilog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangg Dr dr Windhu Purnomo MSi saat rapat virtual dengan Komisi D DPRD Kota Surabaya, bahwa untuk mengendalikan pandemi covid-19 di Surabaya, salah satunya dengan memperbanyak testing, tracing, dan treatment (3T).

Tidak kalah penting adalah penegakan disiplin protokol kesehatan (prokes). Tetap harus bermasker, selalu cuci tangan pakai sabun, dan tidak berkerumun.

Apalagi setelah ditemukannya varian Delta, saat ini sudah mulai dianjurkan untuk memakai masker dobel. 

3T itu perlu dilakukan untuk melokalisasi warga yang terpapar sehingga tidak menulari yang lain.

Terlebih orang yang tanpa gejala (OTG) atau bergejala ringan, agar disiplin menjalani karantina/isolasi mandiri sampai sembuh. 

Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono
Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono (Foto:humas pemkot surabaya)

Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono mengutip rekomendasi yang disampaikan pakar epidemiologi tersebut.

Untuk tracing dan penegakan disiplin prokes, DPRD mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk melibatkan masyarakat dan pengurus kampung.

Surabaya punya “Kampung Wani” sebagai model dari kampung tangguh untuk memutus rantai penyebaran dan penularan covid-19 dengan melibatkan pengurus RT, RW, LPMK, tokoh, dan warga masyarakat.

"Kami mendukung langkah Pemkot memperkuat Kampung Tangguh. Keterlibatan masyarakat adalah solusi tepat untuk melakukan tracing dan monitoring warga yang terpapar,’’ kata Adi, Jumat (16/7/2021).

Sementara untuk testing, kata Adi, DPRD Kota Surabaya mengapresiasi respons cepat Wali Kota Eri Cahyadi atas lamanya hasil swab PCR dari puskesmas-puskesmas. Swab antigen pun diakomodasi. 

Kalau hasil swab antigen positif, warga bisa mendapatkan obat-obatan dari puskesmas, dilakukan monitoring dan pengawasan, serta bisa mendapatkan intervensi kebijakan dari Pemkot. Seperti karantina di Hotel Asrama Haji, atau karantina di tempat lain yang disediakan Pemkot Surabaya. Termasuk dirawat di Rumah Sakit Lapangan Tembak (RSLT) Kedung Cowek.

“Tepat! Kebijakan ini agar pasien covid dapat segera tertangani,” tandas Adi Sutarwijono. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved