Breaking News:

Berita Ponorogo

Diawali Rp 100 Edisi Sudirman, Kolektor Uang Ponorogo Ini Pernah Menjual Koleksinya Rp 40 Juta

"Yang pertama itu uang pecahan Rp 100 gambar Jenderal Sudirman dan Rp 1.000 bergambar Sudirman," kata Anas.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Deddy Humana
surya/sofyan arif chandra
Toyib Nasirudin Nawawi, warga Ponorogo kolektor uang langka. 

SURYA.CO.ID, PONOROGO - Toyib Nasirudin Nawawi (33), warga Desa Bajang, Kecamatan Mlarak Ponorogo punya hobi yang unik yaitu mengkoleksi uang dari berbagai zaman. Bahkan ia mempunyai uang keluaran zaman kolonial hingga uang keluaran Bank Indonesia (BI) terbaru.

Selain itu, pria disapa Anas itu mengoleksi uang koin berbagai model dan ukuran serta uang kertas yang belum dipotong (uncutting) hingga yang salah potong (miss cutting).

Anas menuturkam, Minggu (11/7/2021), ia memulai hobinya menjadi kolektor uang sejak 2006. Saat itu ia diberi uang kertas kuno pecahan Rp 100 oleh bapaknya yang bergambar Jenderal Sudirman.

"Mau dibelikan sudah tidak laku, terus saya lihat kok bagus dan ternyata tidak banyak orang yang punya. Berarti kan barang langka, kalau dikoleksi sepertinya asyik ini," kenang Anas.

Sejak menyimpan koleksi pertamanya itu, Anas pun punya niat untuk menambah uang langka. "Saya cari, terus dapat informasi hingga berkenalan dengan kolektor lain di Jakarta, Surabaya, Probolinggo, Malang," ucap Anas.

Karena rasa cintanya semakin besar, Anas pernah mengikuti lelang untuk mendapatkan uang plano atau uang bersambung pecahan Rp 100.000. "Saat itu saya beli Rp 22 juta. Saya simpan ternyata ada yang menawar lalu saya lepas seharga Rp 40 juta," terangnya.

Anas juga pernah membeli uang kuno berjenis uang barong seharga Rp 3 juta. "Karena uangnya ini langka apalagi uncirculated atau belum pernah beredar dan kondisinya masih sangat bagus, jadi harganya mahal," jelas Anas.

Tidak berapa lama uang tersebut banyak yang menawar, Anas pun kembali melepasnya seharga Rp 5 juta.

Menurut Anas, menjadi kolektor uang kuno dan langka membawa keuntungan tersendiri apalagi saat musim pernikahan tiba. "Banyak yang mencari yang pecahannya sulit untuk dijadikan mahar. Misalnya Rp 10 atau Rp 20 itu, bisa kita carikan koinnya," tambahnya.

Harga yang dipatok pun beragam tergantung dari kelangkaan uang yang dicari dan ketersediaannya. Dari sekian banyak koleksi Anas, ada dua uang yang tidak akan ia jual walau ditawar berapapun.

"Yang pertama itu uang pecahan Rp 100 gambar Jenderal Sudirman dan Rp 1.000 bergambar Sudirman," kata Anas.

Anas menjelaskan, uang pecahan Rp 100 bergambar Jenderal Sudirman tersebut merupakan pemberian bapaknya yang tidak mungkin ia jual.Selain itu ia sangat mengidolakan Jenderal Sudirman.

Untuk itulah ia memutuskan juga tidak akan menjual uang pecahan Rp 1.000 bergambar Jenderal Sudirman yang pertama ia miliki. "Untuk yang pecahan Rp 1.000 ini saya punya beberapa tetapi yang saya dapatkan pertama kali tidak akan saya jual," jelas Anas. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved