Breaking News:

Pengamat Ekonomi: Permenperin 03/2021 Perkeruh Industri Gula, Swasembada Gula makin Kehilangan Arah

Cita-cita swasembada gula negeri ini masih jauh dari harapan. Hal ini karena cita-cita itu masih terhambat oleh berbagai persoalan.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
Foto: istimewa
Ilustrasi gula rafinasi. Pengamat menyebut cita-cita Indonesia swasembada gula masih jauh dari harapan. 

"Aturan-aturan yang ada, termasuk Permenperin 3/2021, dibuat terlihat karena ada kepentingan tertentu,” lanjutnya.

Secara umum di Indonesia saat ini ada dua jenis pabrik gula, di antaranya pabrik gula rafinasi untuk memasok keperluan industri. Lokasi pabriknya tidak jauh dari pelabuhan. Bahan baku pabrik gula ini sepenuhnya tergantung pada gula mentah impor.

Padahal, menurut UU No 39/2014 tentang Perkebunan, pabrik tersebut memiliki kewajiban untuk membangun kebun tiga tahun setelah unit olahan beroperasi. Tetapi, lewat UU Cipta Kerja No 11/2020 dan aturan turunannya, kewajiban itu menguap.

Lainnya adalah pabrik gula konsumsi, yaitu pabrik gula konsumsi warisan era kolonial Belanda.

Pabrik-pabrik gula ini tergolong tua, berkapasitas kecil, kurang efisien, dan sebagian besar rata-rata tak punya lahan sendiri.

Bahan baku tebu sepenuhnya mengandalkan dari petani, yang panennya tidak dapat memenuhi satu tahun giling.

Tipe pabrik gula lainnya adalah yang teknologinya modern, berkapasitas besar, efisien, dan punya lahan sendiri.

Pabrik gula ini bisa memproduksi aneka produk, juga bisa menghasilkan gula konsumsi dan gula rafinasi sesuai perizinannya.

Namun, setelah memperoleh izin tersebut, kuota impor gula mentah malah dicabut sehingga investasi yang sudah dikeluarkan menjadi sia-sia.

Menurut Khudori, kehadiran Permenperin 31/2021 memperkeruh keadaan.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved