Breaking News:

Berita Kampus Surabaya

Kemendikbud-Ristek Didorong Rancang Standar Hybrid Learning di Tengah Pandemi

"Seharusnya Indonesia sudah merancang strategi Hybrid Learning ini untuk menghadapi kondisi yang ada," Hariadi Yutanto, dosen UHW Perbanas, Surabaya.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
Foto: dok pribadi
Hariadi Yutanto, pengamat sekaligus dosen dari Jurusan Teknik Informatika Universitas Hayam Wuruk (UHW) Perbanas, Surabaya.  

SURYA.co.id | SURABAYA - Pandemi Covid-19 mendorong penggunaan pembelajaran secara online (daring) dan bahkan membuat pembelajaran tatap muka (offline) banyak ditiadakan.

Padahal kolaborasi keduanya sudah bisa dilaksanakan tanpa harus menunggu pandemi selesai.

"Bahkan sebelum pandemi pun, pembelajaran secara hibrid learning, penggunaan secara online dan offline sudah banyak dilakukan di berbagai negara," kata Hariadi Yutanto, pengamat sekaligus dosen dari Jurusan Teknik Informatika Universitas Hayam Wuruk (UHW) Perbanas, Surabaya, Jumat  (2/7/2021).

Sudah waktunya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi segera merancang standar pembelajaran hybrid learning atau pola pembelajaran gabungan tatap muka dan daring.

Apalagi saat pandemi masih berlangsung dengan jumlah penyebaran yang rendah, beberapa daerah dengan status kuning dan hijau sudah bisa melakukan kegiatan sekolah secara tatap muka.

Sementara saat ini, ada peningkatan penyebaran kembali dengan varian baru yang mendorong untuk memaksimalkan pembelajaran online.

"Seharusnya Indonesia sudah merancang strategi Hybrid Learning ini untuk menghadapi kondisi yang ada.

Dikembangkan sebagai bentuk bimbingan untuk diimplementasikan oleh para pengajar Indonesia yang masih kesulitan dalam menyusun berbagai program pembelajaran pada metode ini," ungkap Hariadi yang juga menjabat sebagai Kepala Bagian Information and Communication Technologi (ICT) UHW Perbanas Surabaya tersebut.

Lebih lanjut, Hariadi menyebutkan, Hybrid learning sebenarnya telah diputuskan di Indonesia oleh empat menteri.

Namun banyak para pengajar Indonesia yang masih belum mengetahui metode pembelajaran ini, karena sudah terbiasa dengan metode pembelajaran konvensional yang tidak membutuhkan media teknologi. 

Untuk itu, perlunya standar dan wawasan luas bagi para pengajar Indonesia agar banyak memiliki inovasi metode pembelajaran yang menyesuaikan keadaan pandemi saat ini, salah satunya hybrid learning.

"Pengajar saat ini harus selalu berada di depan perangkat teknologi untuk proses kegiatan belajar mengajar, tetapi instruksi kegiatan belajar mengajar yang diberikan kepada peserta didik dapat dilakukan secara tatap muka," ungkap Hariadi.

Saat memberi materi dalam talkshow online (podcast) Ngobrol Pinter Yuk, Rek! (Ngoprek) Cangkrukan di Rumah Aja, Hariadi membeberkan beberapa negara yang sudah melakukan Hybrid Learning ini. Yaitu Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS).

"Kementerian pendidikan Korsel telah membentuk komunitas guru aktif, yakni para guru dapat bertukar ide, wawasan, masukan, serta contoh untuk implementasi metode pembelajaran jarak jauh," jelasnya.

Sedangkan kementerian pendidikan AS juga memberikan standar nasional untuk pembelajaran campuran, jarak jauh dan tatap muka, yang dapat diakses oleh banyak guru secara umum.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved