Liputan Khusus

Bahaya Pembelajaran Tatap Muka di Surabaya, Dokter Windhu Purnomo: Situasinya Menakutkan

Bahaya pembelajaran tatap muka diungkap pakar kesehatan Unair, Dokter Windhu Purnomo. Menurutnya situasinya menakutkan.

Editor: Tri Mulyono
Istimewa
Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Windhu Purnomo. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Ahli Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr dr Windhu Purnomo, mengungkapkan bahayanya kalau pembelajaran tatap muka (PTM) akan digelar lagi Juli 2021 mendatang.

Berikut ulasan lengkapnya.

Oleh : Dr dr Windhu Purnomo 

Rencana dimulainya lagi pembelajaran tatap muka (PTM) memang harus dibatalkan, karena kita sebagai orangtua wajib melindungi anak-anak. Bagi saya kebijakan pembatalan tersebut sudah benar.

Sebenarnya PTM di Surabaya sudah siap, tinggal menyesuaikan perkembangan situasi terkini, menyangkut infrastruktur dan standar prosedurnya.

Namun, untuk menjalankan PTM di tengah kondisi seperti saat ini, menakutkan. Kondisi epidemologinya sekarang semakin mencemaskan, kasusnya naik tajam. Jadi tidak main-main, kasus terkonfirmasi positif tinggi sekali.

Baca juga: Beragam Reaksi Orangtua di Surabaya Kalau Pembelajaran Tatap Muka Batal Digelar Juli 2021

Lonjakan kasus bukan hanya dari Bangkalan kalau berbicara Jawa Timur. Secara umum kondisi kita ini bukan hanya faktor mudik dan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Kepatuhan warga mematuhi prokes jelek, kemauan tracing pemerintah juga buruk. Jadi kombinasi dari banyak faktor. Tidak hanya di Bangkalan saja.

Sekali lagi orangtua jangan maunya sendiri, ingin pembelajaran tatap muka, mengabaikan perlindungan anaknya. Tugas pemerintah untuk melindungi. Menangani pandemi berkaitan dengan perlindungan, keselamatan bagi rakyat.

Ini bukan soal demokrasi. Berbeda dengan pilkada, itu baru demokrasi. Penanganan pandemi tidak bicara demokrasi, tapi apa yang benar menurut sains.

Jadi kalau bicara pandemi Covid-19, menurut sains bagaimana menangani pandemi, tidak boleh ada pergerakan manusia. Virus ikut inangnya saat orang bergerak. Ketika terus bergerak, lalu direlaksasi tidak hanya sekolah, wisata dan perdagangan masih terus bergerak, maka virusnya akan terus berpindah.

Ilmu standar penanganan Covid-19, kalau ada wabah carilah kasusnya. Kalau kasusnya tidak ketemu, kita tidak tahu tertular dari mana. Kasusnya cari setinggi mungkin. Itu namanya tracing. Jadi suatu daerah tidak mau cari kasus bisa disebut tidak kerja.

Untuk bisa menyelesaikan wabah ini, kasusnya harus ditemukan. Kalau kasusnya tidak ketemu berarti penularannya di bawah permukaan. Temukan sebanyak mungkin kemudian diisolasi supaya tidak menular. Itu prinsipnya.

Bukti bahwa tracing dan testing lemah, Indonesia nomor ke-158 dalam urusan testing rate 220 negara. Indonesia 30 negara di dunia yang terjelek dalam melakukan testing dan tracing. Makanya tidak selesai.

Tren dunia turun tapi Indonesia malah naik. Karena banyak kasus yang ada di bawah permukaan tidak mampu kita cari. Kalau kita tidak mampu mencari, apakah semua orang harus dianggap positif. Kan kita tidak bisa membedakan karena testing-nya jelek.

Caranya semua orang yang ada di wilayah itu harus dikunci. Itu namanya karantina wilayah. Artinya mobilitas warga dihentikan. Bukan malah sekolah dibuka, mall dibuka, tempat wisata dibuka. Tidak sesuai dengan ilmu.

Jadi kalau nanti ada banyak orangtua, maunya enak saja tidak mau repot untuk mengurusi pembelajaran anak di rumah, hal itu membahayakan dirinya sendiri. Karena si anak bisa membawa virus ke rumah. Nanti kalau di rumah ada orang berusia di atas 60 tahun ke atas dan punya komorbid, akan menjadi klaster keluarga.

Siswa ke sekolah itu harus jalan dulu dari rumah. Siapa yang menjamin mereka tidak keluyuran atau tidak mampir. Padahal di luar banyak virus, dimana kasus terkonfirmasi positif kita tinggi.
Pimpinan daerah, instansi dispendik harus mempunyai persepsi resiko yang baik bukan sekedar menuruti kemauan masyarakat. Banyak masyarakat tidak mengerti.

Soal sistem pembelajaran sekolah, meskipun pembelajaran jarak jauh (PPJ) online, akan tetap bisa bagus, tinggal menyiapkan infrastruktur yang baik. (febrianto ramadani/luhur pambudi)

Sumber: Surya Cetak
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved