Breaking News:

Virus Corona di Jatim

Belum Genap Sebulan Pemprov Jatim Tambah 1.300 Bed Perawatan akibat Lonjakan Kasus Covid-19

Data dari Satgas Covid-19 Jawa Timur, sejak 1 Juni 2021 hingga 23 Juni 2023, setidaknya sudah ada penambahan 1.300 bed perawatan covid-19.

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Parmin
surya.co.id/ahmad zaimul haq
Rumah Sakit Lapangan Covid-19 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur Jl Indra Pura Suarabaya. Pemprov Jatim melakukan penambahan bed di rumah sakit perawatan akibat melonjaknya kasus covid-19 di Jatim dalam tiga pekan terakhir. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Peningkatan kasus covid-19 di Jatim dalam tiga pekan terakhir membuat Pemprov Jawa Timur melakukan penambahan bed di rumah sakit-rumah sakit layanan pasien covid-19. 

Berdasarkan data dari Satgas Covid-19 Jawa Timur, sejak 1 Juni 2021 hingga 23 Juni 2023, setidaknya sudah ada penambahan sebanyak 1.300 bed perawatan covid-19 di seluruh rumah sakit di Jawa Timur. 

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Juru Bicara Satgas Covid-19 Jawa Timur Makhyan Jibril Al Faraby, Kamis (24/6/2021). Ia menyampaikan bahwa penambahan bed terus dilakukan untuk menurunkan tingkat hunian pasien covid-19 atau Bed Occupancy Ratio (BOR). 

"Per hari ini BOR rumah sakit perawatan covid-19 di Jatim adalah 76 persen untuk ruang isolasi biasa. Dan untuk ruang ICU BOR nya 74 persen. Memang tidak tinggi, namun memang di beberapa daerah ada peningkatan BOR yang signifikan," kata Jibril. 

Seperti di rumah sakit yang saat ini masuk zona merah. Yaitu Kabupaten Bangkalan BOR untuk ICU 60 persen dan untuk BOR isolasi biasa 85 persen. Sedangkan untuk Kabupaten Ponorogo, BOR perawatan isolasi biasa sudah masuk di angka 96 persen, dan untuk BOR ruang ICU juga sudah tinggi di angka 82 persen. 

Sedangkan untuk Kabupaten Ngawi, BOR isolasi biasanya adalah 82 persen, sedangkan BOR ruang ICU nya 60 persen. Selain itu yang juga mengalami peningkatan adalah BOR ruang ICU di SUrabaya mencapai 60 persen, dan BOR isolasi boasa mencapai 92 persen. 

Dikatakan Jibril, dalam tiga pekan ini, khususnya setelah dampak libur lebaran Idul Fitri menyeruak, memang terdapat lonjakan drastis untuk tingkat hunian pasien covid-19 di rumah sakit-rumah sakit rujukan. 

"Bagaimana tidak, kalau kita flash back saat lebaran itu BOR ICU di Jatim hanya 26 persen. Kemudian melonjak pesat saat ini menjadi 74 persen. Ini adalah dampak nyata yang terlihat," kata Jibril. 

Guna mengatasi lonjakan tingkat hunian rumah sakit rujukan, Pemprov Jatim melalui Satgas Covid-19 terus menambah bed di rumah sakit yang memberi layanan perawatan covid-19. 

Seperti saat terjadi lonjakan kasus di Kabupaten Bangkalan. Rumah Sakit Syarifah Ambami Ratu Ebo, yang awalnya hanya punya 90 bed untuk isolasi pasien covid-19, diekspansi penambahan bed hingga kini memiliki 216 bed. Begitu juga untuk ruang ICU perawatan covid-19 nya. Semula mereka hanya punya 7 bed, yang kemudian dibantu Pemprov Jatim menjadi 13 bed. 

"Selain itu juga didirikan rumah sakit lapangan yang kapasitasnya saat ini sudah hampir 600 bed, kemudian juga ditambah lengkap dengan pusat-pusat karantina dan isolasi. Itu dilakukan agar mereka yang terpapar tidak sampai tidak mendapatkan layanan. Bed terus ditambah, pusat layanan juga ditambah, ini adalah upaya yang telah lakukan dalam mengangani lonjakan kasus covid-19 di Bangkalan," tegas Jibril

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Jatim, pada tanggal 1 Juni 2021 jumlah bed layanan covid-19 di Jatim adalah 7.109 tempat tidur. Dengan penambahan yang dilakukan, saat ini ada sebanyak 8.460 tempat tidur. 

Lebih lanjut, Jibril menegaskan bahwa adanya lonjakan kasus covid-19 di Jatim yang berujung dengan meningkatkan tingkat keterisian bed rumah sakit layanan covid-19, menurutnya saat ini sedang ada lonjakan covid-19 ketiga di Jawa Timur. Kenaikan covid-19 kali ini bahkan lebih besar dibandingkan sebelum-sebelumnya.

"Ini lonjakan kurva yang ketiga. Bedanya, kalau dulu kita itu naiknya kurva itu pelan-pelan. Kalau sekarang kecepatan lonjakannya itu berkali lipat," tegas Jibril.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Karena prokes yang bisa jadi melonggar saat libur lebaran, adanya mobilitas saat liburan yang menyebabkan banyak muncul klaster keluarga dan adanya virus varian baru yaitu varian delta. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved