Breaking News:

Travel

Warga Purwodadi Kabupaten Malang Kenalkan Kesenian Jaranan ke Turis Asing

Desa Purwodadi kerap dikunjungi wisatawan asing untuk melihat keindahan Pantai Banyu Anjlok dan berselancar di Pantai Lenggoksono.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Titis Jati Permata
Foto Istimewa Jaranan Turonggo Satrio Budoyo
Turis asing memainkan seni Jaranan di Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. 

SURYA.CO.ID, MALANG - Kelompok Jaranan Turonggo Satrio Budoyo gencar mengenalkan kesenian Jaranan kepada turis asing yang berkunjung di Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

Desa Purwodadi kerap dikunjungi wisatawan asing untuk melihat keindahan Pantai Banyu Anjlok dan berselancar di Pantai Lenggoksono.

Ketua Kelompok Jaranan Turonggo Satrio Budoyo, Mukhlis, menerangkan pihaknya turut menawarknan latihan seni Jaranan dengan paket wisata di Desa Wisata Purwodadi.

"Kami latihan seminggu 3 kali, bahkan kita paketkan dengan wisatawan yang menginap. Kami bekerjasama dengan Pokdarwis Bowele untuk wisatawan yang menginap kita kasih paket belajar kuda lumping, gamelan, dan karawitan. Wisatawan ini ada yang dari Amerika, Jerman, Spanyol, dan berbagai negara Eropa lain," ujar Mukhlis ketika dikonfirmasi.

Baca juga: Update Virus Corona Surabaya 21 Juni 2021: Mulai Hari Ini, Pelintas Suramadu Wajib Kantongi SIKM

Mukhlis bercerita, identitas seni Jaranan telah melekat di Desa Purwodadi sejak puluhan tahun silam.

Ia mengenang para sesepuh desa iuran bersama guna membeli alat properti jaranan.

"Dari tahun 1970 sampai 2019 itu jatuh bangun," kenangnya.

Jaranan dan reog ini biasanya ada ketika event larung sesaji yang diadakan setiap 15 Suro.

"Kami juga memiliki tradisi larung sesaji yang diiringi kesenian tradisional yang ada," jelasnya.

Pandemi Covid-19 membuat ritme pentas kesenian Jaranan secara terbuka menjadi terbatas.

"Sekarang karena ada pandemi Covid-19 pentas di luar desa belum, karena kita bangkit setahun langsung krna pandemi. Sebenarnya sih sudah ada pementasan di luar desa, akhirnya dicancel karena adanya pandemi itu. Kami ada pementasan di Pakisaji hingga Kota Blitar karena pandemi. Di sini (dalam desa) sebenarnya sempat tersendat juga karena pandemi," ungkapnya.

Guna membuat kesenian Jaranan tetap eksis, Mukhlis dan para rekan mengadakan latihan di desa dengan protokol kesehatan.

"Jjadi sifatnya latihan rutin dengan yang hadir orang lokal," tutupnya. 

BACA BERITA TRAVELLING LAINNYA

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved