Breaking News:

Berita Bangkalan

Video Viral Warga Karantina Penyekatan Covid-19 Jembatan Suramadu Tuntut Fasilitas

Video seorang pria mengenakan kopiah berwarna putih dan memakai sarung berteriak lantang beredar di gurp WhatsApp (WA)

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Fatkhul Alami
Surabaya.Tribunnews.com/Ahmad Faisol
Video Viral Warga Karantina Penyekatan Covid-19 Jembatan Suramadu Tuntut Fasilitas 

SURYA.co.id | BANGKALAN – Video seorang pria mengenakan kopiah berwarna putih dan memakai sarung berteriak lantang di hadapan beberapa warga, aparat berpakaian TNI, dan petugas berpakaian lengkap Alat Perlindungan Diri (APD) bereda di gurp WhatsApp (WA) sejak Sabtu (19/6/2021) malam.

Dalam video berdurasi 07.58 menit itu, pria tersebut mengawali orasinya dengan bacaan Bismillahirrohmanirrahim.

“Kami warga karantina di gedung BPWS mempunyai sepuluh tuntutan,” teriaknya di awal orasi.

Dilanjutkan, pertama, air yang tidak pernah mengalir di toilet atas arah utara. Kedua, termpat suci untuk melaksanakan salat berjamaah tidak tersedia. Ketiga, kendaraan bermotor yang ada di Surabaya karena kami tinggalkan, kami minta dikembalikan ke tempat ini, apabila ada kerusakan dan kehilangan siapa yang harus bertanggung jawab.

Tuntutan keempat, AC (pendinging) di lantai II sebalah utara tidak menyala. Kelima, bagaimana sebenarnya prosedur atau SOP (Standart Operasional Procedure), hak-hak bagi warga yang dikarantina berstarus OTG (Orang Tanpa Gejala) dalam pelayanan kesehatan dan fasilitas.

Keenam, meminta hasil tertulis per lembar hasil tracing (penelusuran) awal dan hasil tes PCR, baik yang terjaring penyekatan di pos petapan akses Suramadu (Bangkalan) arah Surabaya maupun pos Suramadu arah Madura untuk kepentingan laporan ke tempat kerja masing-masing.

Ketujuh, berapa kali 24 jam hasil tes swab PCR dan rapid antigen sudah keluar untuk diketahui warga karantina. Kedelapan, edukasi tentang tahap-tahap karantina. Kesembilan, santun full bagi keluarga di rumah mengingat dari penghuni rumah karantina merupakan tulang punggung keluarga.

Kesepuluh,, penyiapan pakaian layak serta kebutuhan kesehatan wanita seperti pembalut dan lain-lain, mengingat saat terjadi penyekatan secara tiba-tiba dan tidak ada persiapan dari warga karantina.

“Kami meminta ada tanggapan dari pihak terkait, 1 x 24 jam selambat-lambatnya 2 x 24 jam. Kami akan tertib tetapi apabila 10 tuntutan kami dalam 2 x 24 jam tidak ada respons, kami pulang,” tegasnya.

Ia kemudian menyampaikan informasi tambahan terkait jumlah penghuni rumah karantina di bekas kantor BPWS Surabaya lebih dari 100 orang, beberapa di antaranya warga berusia lanjut, dengan jumlah kamar mandi sebanyak 4 ruang.

“Itu WC yang kami jadikan kamar mandi. Kami tidak akan mengikuti (swab) PCR ulang sebelum hasil PCR pertama belum keluar,” tegasnya.

Satu hal yang membuatnya tidak habis pikir, yakni pendataaan ulang terkait penghuni rumah karantina di bekas kantor BPWS yang dilakukan sejumlah petugas selepas Salat Jumat (18/6/2021).

“Petugas memaksa warga karantina untuk didata ulang karena data sebelumnya dikatakan telah ketelisut,” tuturnya.

Ia menambahkan, alangkah baiknya apabila warga karantina yang berasal dari luar kabupaten untuk dikembalikan ke daerah asalnya.

“Terakhir, mohon kepala daerah atau DPRD yang merasa ada salah seorang warganya dikarantina untuk dijenguk,” pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved