Jumat, 1 Mei 2026

Berita Surabaya

Sekolah Tatap Muka Bisa Dilaksanakan Juli Mayoritas Sekolah Siap

Survei Dewan Pendidikan pada sekolah di Jatim mayoritas sekolah siap tatap muka.

Tayang:
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Anas Miftakhudin
Habibur Rohman
Simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Surabaya.SURYA/HABIBUR ROHMAN 

SURYA.co.id, SURABAYA - Dewan Pendidikan menilai Kota Surabaya bisa melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Namun syaratnya, masyarakat harus bisa mengantisipasi masing-masing wilayahnya dari zona merah (cluster penularan Covid-19).

Dewan Pendidikan Jatim mengutip zona penularan di Surabaya hingga 18 Juni 2021 menyebut tak ada zona merah di Surabaya. Rinciannya, 83 kelurahan di zona hijau, 68 kelurahan masuk zona kuning, dan sisanya oranye. 

"Artinya, secara aturan, Surabaya diperbolehkan untuk menggelar sekolah tatap muka. Ini kalau berdasarkan data saat ini," kata anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur, Isa Ansori, Sabtu (19/6/2021). 

Hal ini disampaikan Isa mengutip Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri. Ini terkait pembelajaran tatap muka bagi daerah di zona aman Covid-19 yang ingin menggelar pelaksanaan sekolah tatap muka.

Yang mana, sekolah yang berada di zona hijau dan kuning diperbolehkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Sedangkan kelurahan di zona merah tak diperbolehkan PTM. 

"Ini sebuah kepastian bahwa masih ada proses belajar di sekolah. Namun, tetap dengan menjalankan protokol kesehatan," katanya. 

Namun, saat ini sekolah masih dalam massa libur kenaikan kelas (12 Juni - 10 Juli 2021). Paling cepat, PTM di Surabaya bisa dimulai pada tahun ajaran baru 2021 (12 Juli 2021).

Namun, indikasi ini bisa saja berubah apabila sekolah yang berada di wilayahnya tiba-tiba masuk zona merah. "Kalau tiba-tiba merah, ya harus mengikuti aturan. Ini (regulasi) sifatnya elastis, bisa berubah," katanya.

Selain memastikan di luar zona merah, masing-masing sekolah juga harus menyiapkan sejumlah persiapan lain. Di antaranya, mendapat restu dari orang tua/wali murid. 

"Sekian banyak wali murid, masih ada yang ragu. Ada juga yang mantap soal PTM. Sehingga, ketika pemerintah memperbolehkan, sekolah tetap harus koordinasi dengan wali murid," katanya. 

Baik wali murid yang membolehkan anaknya sekolah tatap muka maupun tidak, harus sama-sama dilayani.

"Misalnya, yang ragu diberikan pembelajaran secara daring. Lainnya, bisa dengan offline," terangnya.

Selain itu, sekolah harus ikut menyiapkan fasilitas yang memadahi. Survei Dewan Pendidikan pada sekolah di Jatim menyebut mayoritas sekolah siap sekolah tatap muka. 

Misalnya, dari tenaga pendidik. "Sekitar 93 persen guru siap untuk PTM. Sedangkan, sebanyak 83 persen sekolah menyatakan siap," katanya. 

Kesiapan dari guru dibuktikan dengan keikutsertaan guru dalam vaksinasi. "Di Surabaya misalnya, Pemkot sampai bekerja sama dengan swasta untuk vaksinasi," lanjutnya. 

"Ini tren positif. Namun, bagi gurunya yang tidak mau divaksin, sekolah harus mengambil kebijakan agar orang tua nyaman melepas anaknya," katanya. 

Sedangkan dari kesiapan sekolah dilihat dari fasilitas protokol kesehatan yang memadai. Misalnya, alat pengukur suhu, tempat pencuci tangan, hingga alat pelindung diri. 

Pemkot juga harus menguji kesiapan sekolah melalui asesmen. "Mereka menyediakan fasilitas sesuai persyaratan. Ini harus benar-benar matang," tandasnya.

Di sisi lain, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi memastikan rencana pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah terus dimatangkan. Pihaknya terus berkoordinasi dengan beberapa pihak, termasuk dewan pendidikan. 

Potensi kenaikan Covid-19 menjadi kekhawatiran. Pihaknya tak ingin PTM dipaksakan.

"Jangan sampai tatap muka memberikan dampak yang tidak bagus. Ini harus dijaga," kata Eri. 

Sehingga, kepastian PTM pun masih akan terus dikaji. "Belum tahu (PTM), belum pasti. Karena kita lebih utama menangani Covid ini dari pada tatap muka. Kalau dampaknya lebih banyak, kan enggak (PTM)," tambahnya.

Pemkot Surabaya juga akan mengirim surat kembali kepada wali murid. Sebab, izin sudah keluar sebelum kasus Covid-19 naik, dan kebanyakan orang tua setuju.
"Tapi meskipun ada izin dari orang tua, kami akan tetap mempertimbangkan zonasi. Kami juga mendengar pakar epidemiologi. Kalau nggak bisa, ya nggak (PTM)," jelasnya.

Baginya, yang paling utama ialah keselamatan warga. Ia tidak ingin ada penularan virus Corona saat sekolah tatap muka dibuka, tanpa ada pertimbangan yang tepat.
"Keselamatan warga lebih penting menurut saya dari pada yang lainnya," tegasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved