Berita Jember

Rektor Unipar Jember Akui Hendak Cium Dosen Istri Orang di Hotel di Tretes dan Kini Mengaku Khilaf

Dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh RS, Rektor Unipar Jember hendak mencium dosen istri orang di hotel di Tretes berujung fatal.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Iksan Fauzi
Pixabay.com
ILUSTRASI dugaan pelecehan seksual oleh Rektor Unipar Jember. Sang rektor mundur dan akui hendak cium dosen istri orang di hotel di Tretes. 

SURYA.co.id | JEMBER - Dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh RS, Rektor Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember hendak mencium dosen istri orang di hotel di Tretes berujung fatal.

Setelah kejadian tersebut, sang suami dari dosen tersebut berinisial MH pun melaporkan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan RS ke Yayasan Kantor Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP PT) PGRI Jember.

Bahkan, tekanan datang dari sejumlah karyawan dan dosen yang mendesak dirinya mundur dari jabatan Rektor Unipar.

Pihak yayasan pun telah menjatuhkan surat peringatan (SP) pertama kepada RS setelah menindaklanjuti laporan MH. 

Kini, RS mundur dari jabatannya untuk meredakan suasana di lingkungan Unipar Jember. RS pun mengaku tidak masalah mundur dari kursi rektor.

Setelah kasus itu ramai, RS pun angkat bicara. Kepada reporter SURYA.co.id, RS mengaku khilaf saat hendak mencium dosen istri MH di depan pintu kamar hotel. 

Kronologi dugaan pelecehan seksual versi pelaku

Kepada SURYA.co.id, RS juga menceritakan kronologi dugaan pelecehan seksual yang dilaporkan MH ke Yayasan PPLP PT PGRI Jember.

RS menuturkan, ketika itu dia hendak mengajak dosen tersebut makan dengan mendatangi kamarnya.

Tidak lama dosen itu membukakan pintu, terbersit keinginan RS untuk mencium dosen tersebut.

"Pada intinya saat saya mau cium dia, dia menolak. Setelah itu, saya minta maaf dan pergi.

Itu kejadiannya. Tidak tahu, kok kemudian itu diramaikan. Saya akui saya khilaf, dan saya sudah minta maaf," ujar RS.

Dia mengaku, tidak sampai mencium dosen tersebut. Dia juga sudah berupaya meminta maaf.

Saat kasus itu dilaporkan ke yayasan, dirinya juga mengakui kekhilafan tersebut dan berupaya melakukan mediasi.

RS juga sudah mendapatkan surat peringata (SP) 1.

Namun kemudian, ada tekanan dari sejumlah karyawan dan dosen yang mendesak dirinya mundur.

Akhirnya RS memilih mundur untuk meredakan suasana di lingkungan Unipar.

"Ya saya tidak masalah mundur," pungkasnya.

Laporan suami dosen yang diduga jadi korban

Peristiwa itu dibuka oleh MH yang kemudian ditindaklanjuti dengan melapor ke Yayasan PPLP PT PGRI Jember.

Kepada SURYA.co.id, MH mengakui membuat pelaporan tersebut. Dirinya menuntut ada keadilan untuk sang istri. Pelaporan dibuat pada 16 Juni 2021.

"Saya ingin ada keadilan, langkah pertama yang saya lakukan memang melalui yayasan. Ini soal integritas lembaga pendidikan, apalagi dilakukan oleh pejabat tinggi di kampus tersebut. Akibat perbuatan itu, istri saya syok dan tidak mau ke kampus," ujar MH, Jumat (18/6/2021).

Dugaan pelecehan seksual itu terjadi di sebuah hotel yang menjadi lokasi pendidikan dan pelatihan dosen kampus Unipar di Tretes, Pasuruan.

Kegiatan itu diikuti oleh sejumlah orang, termasuk istri MH dan RS. Bentuk dugaan pelecehan itu adalah RS mencium istri MH.

"Kalau saya tidak melapor dan menuntut keadilan, nanti malah istri saya yang dituduh selingkuh. Saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi, jangan ada lagi korban pelecehan apalagi itu di kalangan lembaga pendidikan," tegasnya.

Karenanya MH ingin ada penyelesaian atas kasus tersebut. MH menuntut, pertama, ada proses terhadap dugaan pelecehan seksual itu.

Kedua, adanya sanksi untuk terduga pelecehan seksual. Ktiga, universitas memberikan perlindungan kepada dosen dan tenaga kependidikan perempuan Unipar Jember.

"Karena sangat mungkin rentan menghadapi pelecehan seksual. Saya tidak menginginkan pelecehan seksual yang menimpa istri saya dialami oleh dosen dan tenaga kependidikan lainnya di lingkungan Unipar Jember," tegass MH.

Tanggapan Unipar Jember

Sementara itu, Kepala Biro 3 (Humas, Perencanaan dan Kerjasama) Unipar Achmad Zaki mengatakan, pihak yayasan telah menindaklanjuti laporan korban pelecehan seksual tersebut.

"Tanggl 17 Juni sudah ada tindaklanjut. Dan yang bersangkutan (RS) sudah mengundurkan diri. Jadi sekarang, dia sudah tidak menjabat sebagai rektor lagi," ujar Zaki.

Pihak yayasan, kata Zaki, selama tiga hari berturut melakukan penelusuran dan pemeriksaan kasus tersebut.

Berdasarkan peraturan pokok kepegawaian, RS menyatakan mundur dan dibuktikan dengan surat pernyataan mengundurkan diri.

"Mundur dari jabatan itu juga bentuk sanksi dari yayasan. Selanjutnya, kasus ini juga menjadi pelajaran buat kami. Ke depan nanti, kami akan membentuk Pusat Studi Gender," imbuh Zaki.

Baca berita Jember lainnya di SURYA.co.id

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved