Breaking News:

Berita Jember

Kronologi Rektor Unipar Jember Diduga Lakukan Pelecehan Seksual hingga Mundur, ini Pengakuannya

Berikut ini kronologi Rektor Universitas PGRI Argopuro (Unipar) berinisial RS diduga lakukan pelecehan seksual hingga akhirnya mundur. 

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Musahadah
pixabay.com
Ilustrasi. Rektor Unipar mundur setelah diduga lakukan pelecehan seksual ke dosen. Berikut kronologi kasusnya. 

SURYA.CO.ID - Berikut ini kronologi Rektor Universitas PGRI Argopuro (Unipar) berinisial RS diduga lakukan pelecehan seksual hingga akhirnya mundur. 

Dugaan pelecehan seksual itu dilaporkan MH, suami dosen Unipar yang menjadi korban. 

Dugaan pelecehan seksual itu terjadi di sebuah hotel di Tretes, Pasuruan pada Juni 2021. 

Saat itu, korban dan terduga pelaku tengah mengikuti pendidikan dan pelatihan dosen kampus Unipar. 

Berikut kronologi kasusnya: 

1. Dilakukan di hotel daerah Tretes

Baca juga: Update Virus Corona di Surabaya 19 Juni 2021: TNI Polri Turun Pasca Ricuh Penyekatan Suramadu

Menurut MH, suami korban, kegiatan pendidikan dan pelatihan itu diikuti sejumlah orang. 

Di sela kegiatan itulah, RS diduga melecehkan istri MH dengan menciumnya. 

Perlakuan RS itu pun dilakukan ke MH. 

Pada 16 Juni 2021, MH melaporkan hal itu ke Yayasan Kantor Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP PT) PGRI Jember.

Dia menuntut ada keadilan untuk sang istri.

"Saya ingin ada keadilan, langkah pertama yang saya lakukan memang melalui yayasan. Ini soal integritas lembaga pendidikan, apalagi dilakukan oleh pejabat tinggi di kampus tersebut. Akibat perbuatan itu, istri saya syok dan tidak mau ke kampus," ujar MH, Jumat (18/6/2021).

MH khawatir jika dia tidak melapor dan menuntut keadilan, istrinya justru yang akan dituduh selingkuh. 

"Saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi, jangan ada lagi korban pelecehan apalagi itu di kalangan lembaga pendidikan," tegasnya.

Karenanya MH ingin ada penyelesaian atas kasus tersebut.

MH menuntut, pertama, ada proses terhadap dugaan pelecehan seksual itu. Kedua, adanya sanksi untuk terduga pelecehan seksual.

Ketiga, universitas memberikan perlindungan kepada dosen dan tenaga kependidikan perempuan Unipar Jember.

"Karena sangat mungkin rentan menghadapi pelecehan seksual. Saya tidak menginginkan  pelecehan seksual yang menimpa istri saya dialami oleh dosen dan tenaga kependidikan lainnya di lingkungan Unipar Jember," tegass MH.

2. Reaksi kampus

Kepala Biro 3 (Humas, Perencanaan dan Kerjasama) Unipar Achmad Zaki mengatakan, pihak yayasan telah menindaklanjuti laporan korban pelecehan seksual tersebut.

"Tanggl 17 Juni sudah ada tindaklanjut. Dan yang bersangkutan (RS) sudah mengundurkan diri. Jadi sekarang, dia sudah tidak menjabat sebagai rektor lagi," ujar Zaki.

Pihak yayasan, kata Zaki, selama tiga hari berturut melakukan penelusuran dan pemeriksaan kasus tersebut.

Berdasarkan peraturan pokok kepegawaian, RS menyatakan mundur dan dibuktikan dengan surat pernyataan mengundurkan diri.

"Mundur dari jabatan itu juga bentuk sanksi dari yayasan. Selanjutnya, kasus ini juga menjadi pelajaran buat kami. Ke depan nanti, kami akan membentuk Pusat Studi Gender," imbuh Zaki.

3. Pengakuan rektor

Sementara itu, RS yang dihubungi wartawan mengaku dirinya khilaf.

Dia menuturkan, ketika itu dia hendak mengajak dosen tersebut makan dengan mendatangi kamarnya.

Tidak lama dosen itu membukakan pintu, terbersit keinginan RS untuk mencium dosen tersebut.

"Pada intinya saat saya mau cium dia, dia menolak. Setelah itu, saya minta maaf dan pergi. Itu kejadiannya. Tidak tahu, kok kemudian itu diramaikan. Saya akui saya khilaf, dan saya sudah minta maaf," ujar RS.

Dia mengaku, tidak sampai mencium dosen tersebut. Dia juga sudah berupaya meminta maaf.

Saat kasus itu dilaporkan ke yayasan, dirinya juga mengakui kekhilafan tersebut dan berupaya melakukan mediasi.

RS juga sudah mendapatkan surat peringata (SP) 1. Namun kemudian, ada tekanan dari sejumlah karyawan dan dosen yang mendesak dirinya mundur.

Akhirnya RS memilih mundur untuk meredakan suasana di lingkungan Unipar. "Ya saya tidak masalah mundur," pungkasnya.

Kasus Lain di Unej

RH, dosen Unej tersangka pencabulan keponakan terancam Lebaran di penjara.
RH, dosen Unej tersangka pencabulan keponakan terancam Lebaran di penjara. (surya/sri wahyunik)

Sebelumnya, RH (inisial) Dosen Universitas Jember (Unej) menjadi tersangka pencabulan atas keponakannya yang berusia 16 tahun.

Pencabulan dilakukan dengan modus terapi kanker payudara, namun kenyataannya melakukan tindakan cabul. Sementara korban tidak sakit itu. 

Perbuatan cabul dilakukan dua kali. Perbuatan kedua berhasil direkam oleh korban memakai ponsel. Perekaman dilakukan dalam moda suara, bukan video.

Polres Jember pun menahan RH sejak Kamis (6/5/2021). 

Bahkan RH terancam 15 tahun penjara, ditambah sepertiga ancaman maksimal (5 tahun penjara) karena dia adalah wali dari korban yang diduga dicabuli. 

Hal ini sesuai Pasal 82 ayat 1 dan 2, junto Pasal 76 UU Perlindungan Anak yang dijeratkan penyidik Polres Jember kepadanya. 

Di bagian lain RH akhirnya membuat pembelaan melalui rilis yang dibuat kuasa hukumnya, Anshorul Huda. 

RH menyebut kasus yang menjerat dirinya dilatarbelakangi masalah keluarga.

Dikatakan ada unsur balas dendam dari ibu korban terhadap dirinya.

RH juga beberapa kali meminta perkara itu diselesaikan secara kekeluargaan.

Pengacara RH, Anshorul Huda mengatakan kliennya akan kooperatif mengikuti seluruh proses hukum yang berlaku.  

Ibu korban memang tidak mau persoalan itu diselesaikan secara kekeluargaan, karena anaknya sudah dilecehkan dua kali oleh RH.

Ibu korban tetap ingin persoalan itu diselesaikan melalui jalur hukum, supaya ada keadilan, juga mencegah terjadinya korban lain.

"Dan tidak ada istilah balas dendam atau apa. Anak saya menjadi korban pelecehan oleh om-nya," tegas ibu korban dalam kesempatan wawancara kepada Surya beberapa waktu lalu.

Di bagian lain, pihak Unej menyatakan sikap paska penahanan salah satu dosen Unej, RH, oleh penyidik Polres Jember dalam perkara dugaan pencabulan.

Melalui rilis resmi yang disampaikan Bagian Humas Universitas Jember, Rektor Unej Iwan Taruna mengatakan menghormati kewenangan penyidik Polres Jember yang menahan RH.

"Kami menghormati kewenangan penyidik yang menahan RH. Pasalnya, tindakan penyidik Polres Jember memang menjadi kewenangan sesuai dengan ketentuan hukum acara pidana yang berlaku," ujar Iwan Taruna secara tertulis dalam rilis yang dikirim, Jumat (7/5/2021).

Sementara itu Wakil Koordinator Humas Unej, Rokhmad Hidayanto menambahkan, sejak awal mencuatnya kasus ini, rektor Unej telah berkomitmen untuk menuntaskan kasus tersebut.

Rektor membentuk tim pemeriksa internal untuk menangani kasus tersebut. Tim pemeriksaan internal berada di FISIP, tempat RH mengajar.

"Karenanya ada tim pemeriksa internal itu. Sekarang tim pemeriksa masih bekerja, dan semoga dalam waktu dekat sudah ada hasil dari pemeriksaan tersebut. Karena tim sudah meminta keterangan dari sejumlah orang," ujar Didung, panggilan akrab Rokhmad Hidayanto, kepada Surya, Jumat (7/5/2021).

Tim pemeriksa itu akan menuntaskan kasus tersebut dari aspek hukum disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Bahkan sambil menunggu tim pemeriksa tuntas menyelesaikan tugasnya, rektor juga telah membebaskan tugaskan sementara RH dari jabatannya sebagai koordinator Program Studi Magister Ilmu Adminstrasi di fakultasnya.

Dan kini setelah ditahannya RH, lanjut Didung, rektor memerintahkan dekan FISIP untuk segera mengambil alih tanggung jawab mata kuliah maupun pembimbingan tugas akhir (skripsi, tesis, disertasi) mahasiswa yang sebelumnya dibimbing oleh RH.

Langkah tersebut diambil agar  tidak ada kerugian akademik terhadap keberlanjutan mata kuliah maupun tugas akhir yang saat ini tengah dikerjakan oleh mahasiswa.

"Jadi tugas mengajar RH akan dialihkan ke dosen lain," imbuhnya.

Sejak RH ditetapkan sebagai tersangka, rektor sudah memberikan instruksi kepada dekan FISIP untuk tidak lagi memberikan bimbingan tugas akhir mahasiswa kepada RH, sekaligus supaya mata kuliah yang diajar oleh RH untuk diisi oleh tim pengajar lainnya.

Namun sampai akhir April kemarin, RH diketahui masih aktif mengajar, juga menguji ujian skripsi mahasiswa bimbingannya. Salah satu mata kuliah yang diampu RH adalah Pancasila.

Namun dengan penahanan badan RH oleh penyidik Polres Jember, RH tidak bisa lagi menjalankan tugasnya mengajar atau memberikan bimbingan tugas akhir.

Didung menambahkan, secara internal rektor juga terus mendorong agar hasil pemeriksaan tim pemeriksa segera selesai agar dari aspek disiplin pegawai segera dapat dilakukan penindakan.

Berita selengkapnya tentang Dosen Unej Tersangka Pencabulan.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved