Breaking News:

Penanganan Covid 19 di Bangkalan

Fatwa Ulama Bangkalan Pascainsiden Perusakan Posko Penyekatan di Jembatan Suramadu

Putra KH Zubair Muntashor, keturunan dari Syaikhona Cholil Bangkalan ini menyayangkan terjadinya insiden perusakan pos penyekatan di Suramadu.

Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Parmin
surya.co.id/bobby constantine koloway
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Cholil Bangkalan KH Fathur Rozi Zubair. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Perusakan pos penyekatan di Jembatan Suramadu oleh warga yang menolak di-swab antigen Covid-19 memantik keprihatinan sejumlah pihak.

Salah satunya dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Cholil Bangkalan, KH Fathur Rozi Zubair.

Putra KH Zubair Muntashor, keturunan dari Syaikhona Cholil Bangkalan ini menyayangkan terjadinya insiden perusakan pos penyekatan di Suramadu, Jumat pagi (16/6/2021). 

"Seharusnya, kejadian itu tidak perlu terjadi jika semua masyarakat sadar akan pentingnya menjaga diri kita dari Covid-19,” ujar Ra Fathur saat dikonfirmasi, Jumat (18/6/2021).

Menurut dia, penyekatan dan swab antigen yang dilakukan pemerintah di Suramadu adalah bentuk ikhtiar menekan penyebaran Covid-19. Sehingga, pandemi bisa terkendali. 

Ini akan sekaligus mengantisipasi dampak buruk yang lebih besar. “Sebagai muslim, kita harus mencegah kemudaratan yang lebih besar,” ujarnya.

Ra Fathur menyebut, penyekatan di Suramadu bukan bentuk diskriminasi.

Sebab penyekatan tidak hanya dilakukan pada Suramadu sisi Surabaya, tapi juga Suramadu sisi Madura.

Artinya, yang diperiksa tidak hanya warga Madura yang akan ke Surabaya, namun juga sebaliknya.

Selama ini, lanjutnya, pihaknya juga melakukan sosialisasi agar warga Madura khususnya Bangkalan untuk taat dan memperhatikan protokol kesehatan (prokes). 

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved