Breaking News:

Berita Surabaya

Guru Asal Makassar dan Papua Belajar Latih Siswa Tuna Rungu Merespon Bunyi di Surabaya

Siswa tuna rungu selama ini mendapat pembelajaran untuk merespon bunyi melalui praktik Pengembangan Komunikasi, Persepsi, Bunyi dan Irama (PKPBI).

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Sulvi Sofiana
Guru Mitra asal Makassar dan Papua saat belajar praktek Pengembangan Komunikasi, Persepsi, Bunyi dan Irama (PKPBI) di SLB Karya Mulia, Kamis (17/6/2021). 

Pasalnya selama ini, guru yang menangani anak disabilitas merupakan guru kelas. Sehingga mereka kesulitan dalam mengajar karena tidak mempunyai ilmu dan kompetensi menangani anak berkebutuhan khusus.

"Setelah guru mitra kembali akan ada pendampingan secara online, dan dilanjutkan kunjungan guru inti ke sekolah mitra. Dan akhirnya akan ada guru imbas di daerahnya," pungkasnya.

Sementara itu, Herawati guru di SMPN 1 Makassar mengaku banyak mendapat masukan dan ilmu baru selama program ini. Pasalnya ia sebagai guru kelas cukup kesulitan menangani anak disabilitas di sekolahnya.

"Kalau di Makassar selain kami kekurangan sarana dan prasarana, kami sebagai guru juga kurang tekniknya selama di sekolah. Setelah praktik di Surabaya, kami bisa lebih atraktif praktiknya," kesannya.

Ia mengaku di sekolahnya terdapat 257 siswa dengan berbagai jenis disabilitas. Sehingga ia perlu mengetahui ilmu dalam mengajar anak dengan disabilitas, khususnya tuna rungu.

"Sebelumnya, saya tidak pernah dapat ilmu bagaimana mendeteksi bunyi untuk anak tuna rungu, dan sekarang tahu tujuan kegiatannya dan bagaimana penerapannya,"pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved