Berita Surabaya

Kronologi Terungkapnya Warga Trenggalek Akan Selundupkan Ribuan Benih Lobster

Dua warga Watulimo, Kabupaten Trenggalek berinisial WNT (33) dan RA (24) diamankan Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim

Penulis: Samsul Arifin | Editor: Fatkhul Alami
Surabaya.Tribunnews.com/Samsul Arifin
Dua warga Watulimo, Kabupaten Trenggalek berinisial WNT (33) dan RA (24) diamankan Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim lantaran diduga menyelundupkan benih lobster. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dua warga Watulimo, Kabupaten Trenggalek berinisial WNT (33) dan RA (24) diamankan Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim lantaran diduga menyelundupkan benih lobster.

Benur yang diselundupkan itu mencapai 39 ribu ekor.

Terungkapnya kasus ini berawal dari informasi adanya jual beli benur tersebut pada Sabtu, (12/62021) kemarin.

Polisi bertindak cepat dengan melakukan penyelidikan ke Tulungagung. Dengan mengantongi informasi adanya pengiriman benur dengan mobil Toyota Yaris berwarna merah nopol AE 1291 PC pada pukul 05.00 WIB.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko menjelaskan, barang bukti yang diamankan ada jenis benur pasir dan jenis benur mutiara.

"Saat dilakukan penggeledahan ditemukan tiga styrofoam berisi 30.500 benur. 30 ribu jenis pasir dan 500 jenis mutiara," ujarnya Kombes Gatot, Selasa (15/6/2021).

Wadirkrimsus Polda Jatim, AKBP Zulham Effendy menambahkan, dua tersangka yang diamankan ini berbagi peran.

RA berperan sebagai pengepul benur dari para nelayan di kawasan Tulungagung dan sekitarnya. Jika memenuhi syarat, hasilnya dijual ke WNT.

"Barang yang dijual ke WNT rencananya akan dijual ke Jakarta," kata Zulham menambahkan.

Hasil penyidikan mengungkap fakta bahwa kedua tersangka mempunyai 79 ribu benur.

Sebanyak 30.500 mampu digagalkan penyelundupannya. Sedangkan 39 ribu benur telah terjual. Kerugian negara disebut oleh Zulham mencapai Rp1 miliar.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Surabaya I, Muhlin mengatakan perbuatan kedua tersangka sudah melanggar hukum.

Hal itu sesuai dengan pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan, kalau jual beli dan ekspor benur dilarang. Dia menginstruksikan fokus budidaya.

"Yang boleh dengan berat 150 gram per ekor jenis pasir. Selain jenis ini 200 gram per ekor," tegas dia.

Atas perbuatannya, kedua tersangka terjerat Pasal 92 Jo Pasal 26 ayat (1) Undang-undang (UU) Nomor 11 Tajun 2020 tentang perubahan Undang-undang (UU) Nomor 46 Tahun tentang Perikanan.

Ancaman hukuman maksimal delapan tahun penjara atau denda Rp1,5 miliar.

Serta terjerat Pasal 88 Jo Pasal 16 ayat (1) Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan Jo Pasal 55 KUHP. Ancaman hukuman enam tahun penjara atau denda Rp1,5 miliar.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved