Breaking News:

Berita Blitar

Perhutani Blitar Juga Memprotes Pabrik Gula RMI, Hutan 4,86 Ha Mendadak Menjadi Parkiran Truk Tebu

Sebab meski sudah dipakai parkir namun Perhutani belum mendapat surat kesepakatan, apakah lahan itu disewa atau ditukar guling.

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Deddy Humana
surya/imam taufiq
Lahan Perhutani Blitar yang sudah gundul karena disulap menjadi areal parkir truk-truk tebu yang masuk ke PG RMI. 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Perseteruan antara warga di beberapa desa di Kabupaten Blitar dengan Pabrik Gula (PG) PT Rejoso Manis Indo (RMI) akibat masalah limbah, kerusakan dan kemacetan jalan, ternyata belum usai.

Sekarang pabrik gula di di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun itu juga diprotes pihak Perhutani Blitar atas pemanfaatan lahan hutan untuk areal parkir truk-truk tebu yang antre masuk ke pabrik itu.

Perhutani Blitar mempersoalkan pemakaian lahan hutan seluas 4,86 hektare di RPH Jajagan atau sekitar 6 KM dari PT RMI. Di hutan arah Utara (pertigaan Brongkos) itu, sudah digunakan untuk areal parkir sekitar 1.200 truk tebu yang akan mengirim ke pabrik gula swasta tersebut.

Sebab meski sudah dipakai parkir namun Perhutani belum mendapat surat kesepakatan, apakah lahan itu disewa atau ditukar guling. Bahkan pohon-pohon di sana sudah telanjur ditebang, sehingga pihak Perhutani ditegur Ditjen Perhutani Pusat.

Karena itu PT RMI mencari solusi, dengan meminjam lahan Perhutani untuk menampung truk-truk tebu. Pada musim giling tahun kemarin, lahan itu mampu menampung 1.200 truk.

Namun baru berlangsung setahun, entah siapa yang wanprestasi, kini timbul masalah. Rabu (8/6) lalu, Perhutani mengirim surat ke Bupati Blitar dan PT RMI. Intinya Perhutani minta kejelasan atas pemanfaatan lahannya tersebut.

"Kami sudah mengirim surat pemberitahuan seperti itu (soal harus ada kejelasan atas alih fungsi hutan menjadi lahan parkir). Ini kawasan hutan sehingga harus ada kejelasan atas perubahan lahan tersebut," kata Ivan Cahyo, Wakil Adm Perhutani Blitar, Minggu (13/6/2021).

Informasinya, Perhutani Bitar tidak tahu apa-apa soal kerja sama pemanfaatan lahan hutan itu. Kini Perhutani malah ditegur pusat karena jika tidak ada solusi, maka Perhutani minta agar lahannya dikembalikan pada fungsinya semula (jadi kawasan hutan).

Seperti diketahui, lahan hutan yang menjadi lahan parkir truk itu dulunya adalah hutan jati yang berada di dua dusun, yakni Dusun Brongkos, Desa Siraman dan Dusun jajagan, Desa Jugo, di Kecamatan Kesamben.

Entah siapa yang membersihkan kayu jatinya dulu, kini kawasan itu sudah menjadi hamparan lahan luas. Bahkan sudah diuruk dengan pasir batu (sirtu) dan dipakai menampung 1.200 truk, yang akan mengirim tebu ke PT RMI.

Seperti diketahui, selama tiga tahun beroperasinya PT RMI warga kerap mengeluhkah hilir mudik truk-truk tebu yang melintasi jalan desa. Selain mengganggu arus lalu lintas, deretan truk yang antre masuk pabrik berjejer sepanjang belasan kilometer di dua sisi jalan desa yang sempit.

Sekarang ternyata pengalihan areal parkir di lahan Perhutani juga menuai persoalan baru. DPRD Kabupaten Blitar ternyata juga tidak mengetahui siapa pihak yang memilih kawasan hutan menjadi tempat parkir itu.

"Kami juga tidak tahu soal pemanfatan hutan yang dipakai parkir truk tersebut. Yang penting, antrean truk tebu jangan sampai menjadi penyebab kemacetan jalan seperti dulu lagi (sampai macet 10 KM)," kata Sugianto, ketua Komisi III DPRD Kabupaten Blitar.

Sugianto juga heran, PT RMI seperti tidak pernah sepi dari masalah. Satu kasus belum tuntas, misalnya terkait dugaan pencemaran limbahnya, kini PT RMI juga disoroti atas pemanfaatan lahan Perhutani tanpa ada kejelasan bagi hasilnya. Sementara, pihak PT RMI belum bisa dihubungi terkait persereruannya dengan perhutani. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved