Breaking News:

Berita Sidoarjo

Pasar Properti Sidoarjo Masih Sepi Akibat Pandemi Covid-19

Tren negatif di pasar properti Sidoarjo masih berlanjut. Sejak pandemi Covid-19 sampai sekarang, sektor ini belum bisa bangkit dari keterpurukan

surya/sugiharto
Ilustrasi maket rumah sederhana saat pameran properti 

SURYA.co.id | SIDOARJO – Tren negatif di pasar properti Sidoarjo masih berlanjut. Sejak pandemi Covid-19 sampai sekarang, sektor ini belum bisa bangkit dari keterpurukan.

Menurut Ketua REI Sidoarjo, Nur Hayati, secara umum memang lebih baik dibanding tahun kemarin. Tapi angkanya masih sangat jauh dari harapan.

“Pengembang yang jualan rumah di bawah Rp 1 M yang terbilang sudah biasa jualan. Lumayan lah untuk bertahan, meski angkanya juga masih sangat jauh dari harapan. Namun untuk properti yang kelas atas, kami rasa masih sangat berat,” kata dia.

Sebenarnya, pelaku properti sudah ingin melakukan ekspansi. Namun beberapa hal menjadi pertimbangan berat. Antara lain, pasar masih lesu, perekonomian juga belum jelas kapan bisa kembali pulih, dan sebagainya, sehingga rencana ekspansi pun masih ditahan.

Disebutnya bahwa masing-masing pengembang punya kondisi yang beda. Tapi secara umum, persoalannya hampir sama. Dan kondisi sekarang ini bukan hanya faktor daya beli yang sedang melempem, tapi ada beberapa faktor lain yang membuat pasar properti belum bisa berjalan normal.

“Bank juga tidak seperti dulu. Sekarang ini mereka lebih hati-hati dan sangat ketat dalam memberikan kucuran pinjaman untuk user. Prosesnya lebih rumit, karena ada pertimbangan perusahaan yang terdampak pandemi, banyak perusahaan melakukan efisiensi, dan beberapa pertimbangan lain,” urai dia.

Dan sejauh ini, para pelaku properti pun belum bisa memprediksi. Sampai kapan kondisi ini akan berlansung. Tapi yang jelas, ketika pandemi berakhir, secara umum kondisi perekonomian akan berangsur pulih. Termasuk sektor properti.

“Paska diberlakukannya free PPN dari pemerintah, memang ada angin segar bagi kami para pelaku usaha properti. Tapi pasar berkata lain, kondisinya memang masih berat,” lanjutnya.

Trend negatif pasar properti juga terlihat dari capaian penerimaan pajak di Kanwil DJP (Direktorat Jenderal Pajak) Jatim II. Sampai triwulan dua tahun ini, capaian target penerimaan pajak di sana baru 35,29 persen.

Menurut Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) Kanwil DJP Jatim II, Takari Yoedaniawati, sektor yang masih perlu dikoreksi karena pergerakannya lambat adalah sektor konstruksi dan real estate.

Meski sektor real estate atau sektor properti telah mendapat keringanan insentif dari pemerintah dalam situasi pandemi ini, kondisi pasar tetap menjadi penentu. Ketika penjualan rendah, tentu setoran pajaknya juga menjadi kecil.

“Namun, secara keseluruhan capaian penerimaan periode ini jauh lebih baik dibanding periode sama tahun lalu. Sampai bulan maret saja tahun kemarin minus 3,4 persen. Sedangkan tahun ini hanya minus 1,04 persen,” kata Takari.

Terhitung per tanggal 4 Juni 2021, jumlah penerimaan pajak di DJP Jatim II sebesar Rp 7,852 triliun, itu terhitung mencapai kisaran 35,29 persen dari total target yang harus diselesaikan Kanwil DJP Jatim II sebesar Rp 22,25 triliun.

Kondisi itu merupakan efek dari pandemi covid-19 yang masih berlangsung sampai sekarang. Meski beberapa sektor yang menjadi objek pajak telah mengalami pergerakan positif, secara keseluruhan belum seperti yang diharapkan.

Penulis: M Taufik
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved