Breaking News:

Berita Kediri

Tak Lagi Menekuni Mesin, Pria Kediri Ini Sukses Bertani Hidroponik; Baru Setahun Mampu Tembus Pasar

pertanian hidroponik tidak butuh lahan luas serta belum banyak yang menggeluti. Sementara kebutuhan sayuran hidroponik meningkat

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Deddy Humana
surya/didik mashudi
Imam Zarkasi, pemilik pertanian hidroponik Kediri Lebih Makmur (KLM) Agro Farm di Kelurahan Banjarmlati, Kota Kediri, Selasa (8/6/2021). 

SURYA.CO.ID, KEDIRI - Tentunya pekerjaan Imam Zarkasy di bidang mekanik yang berkaitan dengan mesin-mesin, tidak berkaitan dengan pembibitan, penanaman apalagi pemotongan tanaman. Tetapi kehilangan pekerjaannya sebagai konsultan di bidang mekanika mesin, mendorong Imam membuka jendela baru hidupnya dengan bertani sayuran hidroponik.

Lembaran baru yang dibuka Imam sangat berbeda. Dari sebelumnya menekuni mesin-mesin, Imam kemudian menggeluti pot-pot, pipa, pupuk, tanaman dan tanah. Memang, pandemi Covid-19 telah memunculkan ide baru bagi Imam untuk menekuni pertanian hidroponik karena masih punya prospek bagus.

Di belakang rumahnya Kelurahan Banjarmlati, Kota Kediri, Imam membangun etalase pertanian hidroponik yang dikelola secara modern di Kelurahan Banjarmlati, Kota Kediri.

Karena ketekunannya, dalam waktu setahun bisnis pertanian hidroponik Imam sudah mampu memasok sayuran segar ke sejumlah pasar swalayan dan restoran terkemuka di Kediri dan Surabaya.

Imam mengaku menjadi salah satu korban pandemi Covid 19. Ia pun kehilangan pekerjaan sebelumnya sebagai konsultan teknisi mekanik peremajaan mesin. "Agro farm ini memang lahir karena pandemi. Kita harus banyak beraktivitas di rumah, sehingga kita bangun kebun hidroponik ini," ungkap Imam kepada SURYA, Selasa (8/6/2021).

Alasan Imam memilih pertanian hidroponik karena tidak butuh lahan luas serta belum banyak yang menggeluti. Sementara kebutuhan sayuran hidroponik semakin meningkat. Imam pun membangun semacam green house untuk tempatnya berkebun.

Di tempat itulah Imam membudikdayakan berbagai jenis sayuran hidroponik seperti bayam merah, bayam Brazil, kangkung, selada dan sawi. Produk hidroponik yang dihasilkan Imam telah memasok banyak pasar swalayan dan restoran terkemuka.

Supaya hasil sayuran hidroponiknya laku di pasaran, Imam juga mengembangkan berbagai varietas sayuran seperti sawi, selada, bayam merah dan bayam Brazil. Sedangkan buah yang dicoba untuk dibudidayakan melon.

"Kami merasakan tumbuh pesat di pasar sayuran hidroponik. Mungkin karena kesadaran masyarakat dengan barang yang bersih dan berkualitas, juga semakin tumbuh," ungkapnya.

Terlebih sejumlah sayuran hasil pertanian hidroponik banyak disukai dan cocok untuk masakan oriental. Sehingga meski harganya lebih mahal, masyarakat tetap mencarinya. Seperti selada sioma, sawi pakcoi, sawi Thailand, sawi caisim adalah di antara sayur hidroponik mahal yang digunakan untuk masakan oriental.

Sedangkan untuk buah melon saat ini masih taraf uji coba dan hasilnya bakal diketahui bulan depan. "Kami masih uji coba varian mana yang unggul dan secara ekonomis hasilnya lebih bagus," jelasnya.

Dengan melihat semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam kesehatan dan meningkatnya taraf ekonomi, Imam tetap yakin bahwa pangsa pasar sayuran hidroponik juga semakin bagus. "Setelah pandemi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan lebih stabil. Sehingga orang akan membutuhkan makanan yang lebih sehat lagi," ungkapnya.

Lewat pola pertanian yang modern, lanjut Imam, ia bisa memperkirakan kapan masa panen sayuran dengan tepat. Termasuk sistem irigasi hidroponik telah dirancang secara modern. Waktu pengairan serta asupan dan nutrisi pemupukan jmelalui jaringan pipa paralon, juga bisa dijadwalkan. ***

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved