Breaking News:

Berita Kediri

Sadarkan Sebayanya Soal Resiko Nikah Muda, 5 Siswa SMA di Kota Kediri Juara Lomba Vlog Edukasi BKKBN

penyumbang stunting adalah kondisi anemia yang dialami ibu. Anemia salah satu penyebab tertinggi terjadinya gizi buruk dan stunting anak.

surya/didik mashudi
Tim Palang Merah Remaja (PMR) SMAN 7 Kota Kediri menjuarai ajang Vlog Edukasi BKKBN 2021, Jumat (4/6/2021). 

SURYA.CO.ID, KEDIRI - Sosialisasi tentang pencegahan pernikahan diri atau pernikahan anak yang ke depannya bisa memicu stunting pada keturunannya, kadang tidak mengena karena perbedaan usia.

Dengan konsep yang tepat, lima siswa dari Palang Merah Remaja (PMR) SMAN 7 Kota Kediri bisa membuat video mengenai resiko pernikahan dini, yang bisa diterima anak-anak sebayanya.

Video dalam bentuk vlog itu disusun kelima siswa itu dengan gaya khas remaja dan tidak menggurui. Namun dengan konsep sederhana itu, mereka berhasil menjuarai lomba Vlog Edukasi BKKBN 2021, dengan mengusung tema pencegahan stunting dan pernikahan dini.

Tim video vlog terdiri dari Karina Putri Wijaya, Riski Narendra Adi Nugroho, Fahrudin A Surya, Nurin Muhanik dan Adek Kaifana.

Karina, salah satu anggota PMR SMAN 7 menjelaskan, sebagai generasi muda pihaknya ingin mengajak teman sebaya untuk sadar bahaya stunting sejak dini dan melakukan pencegahan melalui video vlog yang dibuatnya.

Karina juga mengatakan, pembuatan video itu bertujuan mengedukasi para remaja supaya tidak melakukan pernikahan di usia dini.

"Pernikahan di usia dini memiliki banyak resiko, salah satunya berpotensi stunting. Apalagi jika pengetahuan mengenai kesehatan ibu dan janin yang kurang, dapat memperbesar resiko tersebut," ungkap Karina, Jumat (4/6/2021).

Keberhasilan tersebut membuat bangga Elisa Febriana Sari, pembina PMR SMAN 7 Kota Kediri. "Alhamdulillah senang sekali, saya tidak menyangka dengan persiapan yang mepet justru bisa memberikan hasil maksimal. Saya terharu dengan perjuangan anak-anak," ungkap guru pelajaran sejarah itu.

Kota Kediri bukan termasuk wilayah rentan stunting. Dari data Dinas Kesehatan Kota Kediri, stunting di Kota Kediri berada di angka 10,3 persen. Rata-rata tersebut masih di bawah nasional yang sebesar 30 persen dan provinsi 27 persen.

Fauzan Adima, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri, meminta masyarakat Kota Kediri terutama para orangtua untuk memperhatikan tumbuh kembang janin, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan untuk mencegah terjadinya stunting.

Saat ini Dinkes Kota Kediri bersama dengan puskesmas dan sekolah-sekolah melakukan pencegahan terjadinya stunting. "

Pencegahan kita lakukan sedini mungkin. Sejak usia SMP kita programkan seminggu sekali bagi remaja putri harus meminum tablet penambah darah atau sekitar 53 tablet per tahun. Selain pemberian asupan nutrisi yang juga harus diperhatikan," ungkapnya.

Karena salah satu faktor penyumbang terjadinya stunting adalah kondisi anemia yang dialami oleh ibu. Anemia salah satu penyebab tertinggi terjadinya gizi buruk dan stunting pada anak.

Pemkot Kediri melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) juga gencar memberikan edukasi. Drs Sumedi, Kepala DP3AP2KB menjelaskan, peran pemuda-pemudi utamanya remaja sangat penting untuk mengkampanyekan cegah stunting sejak dini.

"Melalui kelompok Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolah-sekolah dan karang taruna, kita optimistis dapat melakukan edukasi lebih mendalam utamanya kepada remaja. Tidak hanya tentang stunting tetapi juga resiko dari pernikahan di usia dini," ungkapnya. ****

Penulis: Didik Mashudi
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved