Breaking News:

Berita Blitar

Pengusaha Tahu dan Tempe Kota Blitar Terseok-seok Pertahankan Produksi di Tengah Pandemi Covid-19

Produksi usaha tahu dan tempe sempat surut di awal-awal terjadinya gelombang pandemi Covid-19 pada 2020.

Penulis: Samsul Hadi | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/samsul hadi
Pekerja sedang memproduksi tahu di pabrik tahu milik H Puji Sihono, di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, Jumat (4/6/2021). 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Pelaku usaha tahu dan tempe di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, terseok-seok mempertahankan usahanya selama pandemi Covid-19.

Produksi usaha tahu dan tempe sempat surut di awal-awal terjadinya gelombang pandemi Covid-19 pada 2020.

Pandemi belum berakhir, para pelaku usaha dihantam kenaikkan harga kedelai yang menjadi bahan baku utama produksi pada 2021.

Sekarang, harga kedelai tembus di angka Rp 10.500/kg sampai Rp 11.000/kg.

Sebelumnya, harga normal kedelai sekitar Rp 6.800/kg sampai Rp 7.000/kg.

Untuk tetap bertahan, para pelaku usaha tahu dan tempat di Kelurahan Pakunden, Kota Blitar, menyiasati dengan memperkecil ukuran produksi.

Selain itu, mereka juga mengurangi produksi selama harga kedelai masih tinggi.

Seperti yang dilakukan H Puji Sihono (50), pemilik pabrik tahu di Kelurahan Pakunden, Kota Blitar.

Baca juga: Bertemu Wakapolda, PKS Jatim Sampaikan Tekad Upaya Tangkal Radikalisme

Baca juga: Tabrakan Maut di Kabupaten Tulungagung, Kawasaki Ninja Menancap di Moncong Brio

Baca juga: Motor Ditarik Akibat Nunggak Setoran, Pemilik Kendaraan Sekap dan Aniaya Pimpinan Leasing di Tuban

Sejak harga kedelai tembus di atas Rp 10.000/kg, produksi tahu di pabrik milik Sihono turun sekitar 20 persen.

Jika biasanya dia memproduksi sebanyak 3,5 ton kedelai per hari, kini hanya 3,1 ton sampai 3,2 ton kedelai per hari.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved