Breaking News:
Grahadi

Pemprov Jatim

Ketua TP PKK Jatim Arumi Ingatkan Dampak Pernikahan Dini bagi Remaja

Dampak sebuah pernikahan dini, salah satunya yakni perubahan pada tingkah laku, perubahan kestabilan emosi dan kerusakan serius pada organ tubuh.

Humas Pemprov Jatim
Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak saat mengikuti Workshop Bunda GenRe (Generasi Berencana), Rabu (2/6/2021). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak mengingatkan kepada masyarakat agar terus mengupayakan untuk membangun kesadaran akan dampak negatif perkawinan di bawah umur ideal. Karena, persoalan tersebut dinilai penting bagi kesehatan reproduksi remaja (KRR) dan perkembangannya.

Hal itu ia sampaikan saat mengikuti Workshop Bunda GenRe (Generasi Berencana) yang digelar di Kantor Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur Jalan Airlangga Surabaya, Rabu (2/6/2021).

Arumi sebagai Bunda GenRe Jatim itu terus menekankan pentingnya penurunan angka pernikahan dini. Pasalnya, menurut Arumi, dinilai sangat vital.

Perkawinan di bawah umur menjadi triad permasalahan KRR meliputi pernikahan di bawah usia ideal sesuai program keluarga berencana (KB) yakni 20 tahun, seks pra nikah, serta Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA).

"Usia minimal menikah untuk perempuan itu adalah 21 tahun. Sedangkan laki-laki idealnya 25 tahun. Mereka yang menikah di bawah usia itu, biasanya akan menghadapi permasalahan-permasalahan terutama untuk aspek sosial," terang Arumi.

Dalam paparannya, istri Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak itu juga menjelaskan soal dampak sebuah pernikahan dini. Salah satunya yakni perubahan pada tingkah laku, perubahan kestabilan emosi dan kerusakan serius pada organ tubuh.

Selain itu, efek terbesar penyebabnya adalah aspek kematian. Apalagi, sebut Arumi, remaja perempuan merupakan yang paling berisiko mengalaminya.
Berdasarkan data yang diterima, ibu hamil dan melahirkan dengan rentang usia 10-14 tahun memiliki 5 kali probabilitas kematian lebih tinggi dibanding wanita berusia 20-25 tahun.

"Sedangkan yang berumur 15 sampai 19 tahun, memiliki 2 kali risiko kematian lebih tinggi dibandingkan umur ideal," jelasnya.

Untuk itu, PKK dan BKKBN telah mendesain kegiatan mendukung program gerakan GenRe melalui edukasi penundaan usia perkawinan dini, pendidikan sebaya untuk remaja putri, edukasi calon pengantin (catin), serta pencegahan dan penanganan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Program ini, lanjut Arumi, masuk pada Kelompok Kerja (Pokja) PKK III yang membidangi pangan, sandang, papan dan tata laksana rumah tangga. Namun, program ini akan tetap didukung Pokja lainnya di beberapa aspek krusial.

"Pokja I itu membidangi pembinaan mental, spiritual, budi pekerti dan moral, serta gotong royong. Pokja II membidangi pendidikan dan keterampilan serta pengembangan kehidupan berkoperasi. Pokja III membidangi pangan, sandang, papan dan tata laksana rumah tangga, serta Pokja IV membidangi kesehatan, kelestarian lingkungan hidup dan perencanaan sehat. Jadi semuanya akan saling bersinergi untuk mewujudkan GenRe yang lebih baik," ujarnya.

Halaman
12
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved