Berita Surabaya
ITS Kolaborasikan Tiga Desa Ini Sebagai Area Pengembangan Riset dan Pengabdian Masyarakat
Area pengembangan riset dan abmas yang disebut Teaching Industry ini merupakan hasil kolaborasi antara tiga desa
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan tiga kawasan binaan menjadi area pengembangan riset dan pengabdian masyarakat (abmas) yang disebut Teaching Industry.
Gagasan yang dikemukakan Pusat Kajian Kebijakan Publik (PKKP) ITS bidang Bisnis dan Industri ini diresmikan dalam webinar LIVE LAB (Menuju Teaching Industry) secara virtual.
Area pengembangan riset dan abmas yang disebut Teaching Industry ini merupakan hasil kolaborasi antara tiga desa yaitu Desa Ngingas di Sidoarjo, Area Model Konservasi Edukasi (AMKE) di Batu, dan Desa Kebontunggul di Mojokerto.
Ada tiga bidang keilmuan yang dikembangkan yaitu bidang manufaktur untuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Ngingas, bidang herbal untuk kawasan AMKE Batu, dan bidang smart farming dan circular economic untuk kawasan Kebontunggul Mojokerto.
Kepala PKKP bidang Bisnis dan Industri ITS Dr Arman Hakim Nasution menjelaskan program Teaching Industry berawal dari abmas produk PKKP ITS di AMKE Batu.
Dengan tema wisata edukasi herbal, sejak tahun 2020 lalu PKKP ITS meningkatkan kualitas abmas produk dengan dukungan penuh dari Perhutani.
Baca juga: Satgas Covid-19 Kota Blitar Berencana Lakukan Rapid Test ke Pengunjung Tempat Wisata
Baca juga: Shin Tae-yong Benahi Kekurangan Timnas Indonesia Jelang Kualifikasi Piala Dunia 2022
Selanjutnya pada tahun 2021, abmas produk itu akhirnya diperluas sampai ke Desa Kebontunggul dan Desa Ngingas sehingga menjadi area pengembangan.
"Terkait rencana ke depannya, Arman berkata bahwa live laboratorium tadi akan difungsikan sebagai spin off company hasil kerja sama antara ITS dengan kawasan binaan,"urainya.
Dengan demikian, ITS sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) mampu mendorong pendapatan sekaligus menjadikan kawasan binaan sebagai media untuk seluruh bagian dari sivitas akademika dalam memahami pendidikan sociopreneur.
Adanya area pengembangan riset dengan tiga variasi keilmuan ini didorong untuk membawa kebermanfaatan bagi departemen-departemen maupun pusat kajian dan penelitian yang relevan di ITS.
"Ke depannya, ITS mengupayakan Teaching Industry menjadi potensi untuk tumbuh dari research university menjadi innovative university agar semua potensi ITS yang relevan dengan ketiga tema tadi bisa dimanfaatkan untuk berkreasi dan berinovasi," pungkasnya.
Rektor ITS, Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng yang memberikan dukungan penuh terhadap adanya penggabungan ketiga kawasan binaan yang kemudian diperkuat fungsinya menjadi live laboratorium.
Hal ini merupakan upaya ITS untuk meningkatkan kualitas sarana dan daya dukung sarana riset sekaligus pengabdian baik dari departemen-departemen maupun dari pusat kajian dan pusat penelitian yang ada di ITS.
“Kami menyebutnya sebagai laboratorium hidup,” ujar rektor yang biasa disapa Ashari tersebut.
Laki-laki kelahiran Sidoarjo itu juga menerangkan bahwa Teaching Industry bisa mempermudah mahasiswa dan dosen ITS dalam berbagi ilmu pengetahuan, berbagi rekomendasi, dan terjun secara langsung ke dalam masyarakat.
“PKKP ITS bidang Industri dan Bisnis menyediakan tiga area untuk live lab ITS yang semuanya berkegiatan dan dilaksanakan oleh masyarakat. Dengan demikian, kawan-kawan ITS dan mahasiswa bisa praktikum di sana,” papar guru besar Teknik Elektro ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/rektor-its-prof-dr-ir-mochamad-ashari-meng-rektor-its.jpg)