Breaking News:

Berita Bangkalan

Hujan Air Mata di Halaman Masjid Mbah Kholil Bangkalan saat Santri Pamit pada Orangtua

Mereka kembali meninggalkan orang tua, saudara, teman bermain, dan hingar-bingar kehidupan di luar ponpes

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/ahmad faisol
Para santri putra-putri asal Kabupaten Bangkalan dalam prosesi sungkem sebelum Kembali ke Pangkuan Sukorejo dalam Pelapasan Balik Jamaah ke Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Kabupaten Situbondo di halaman Masjid Pesarean Syaikhona Kholil, Desa Martajasah, Kecamatan/Kabupaten Bangkalan, Sabtu (22/5/2021). 

SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Masa libur satu bulan selama Ramadhan telah usai.

Tiba waktunya bagi para santri kembali ke pondok pesantren (ponpes).

Mereka kembali meninggalkan orang tua, saudara, teman bermain, dan hingar-bingar kehidupan di luar ponpes selama 11 bulan ke depan.

Sedikitnya 400 santri putra-putri berusia belasan tahun asal Kabupaten Bangkalan dikumpulkan di halaman Masjid Pesarean Syaikhona Kholil, Desa Martajasah, Kecamatan/Kabupaten Bangkalan, Sabtu (22/5/2021).

Didampingi orang tua dan keluarga, mereka bersiap ‘Kembali ke Pangkuan Sukorejo’ dalam Pelapasan Balik Jama’ah ke Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Kabupaten Situbondo dengan menggunakan 5 unit bus.

Beberapa santri di antaranya masih terlihat manja, enggan turun dari pangkuan ibunya.

Namun proses sungkeman menjadikan suasana penuh keceriaan itu berubah haru, suara isak tangis perlahan mulai terdengar bersamaan dengan lantunan puisi yang dibacakan melalui pengeras suara.

Para santri berpamitan dengan posisi jongkok sambil sungkem di atas lutut orang tua mereka yang duduk di kursi.

Baca juga: Waktu Persiapan Singkat, Pelatih Madura United Tambah Volume Latihan Sehari Dua Kali

Baca juga: Bupati Banyuwangi Keliling Perkebunan, Hadirkan Layanan Kependudukan Sampai Ternak Sapi

Baca juga: Update Virus Corona Surabaya, 22 Mei 2021: Hindari Ledakan Kasus, Pendatang Dites Swab Antigen

Air mata seolah semakin menbasahi halaman masjid Wisata Religi Mbah Kholil, ketika puisi terdengar mulai tiba pada bait-bait klimaks ;

‘Tanpa terasa lebih dari setahun kini aku menjadi santri Sukorejo. Namun Bapak-Ibu, maaf kan anakmu belum bisa membuat bangga karena belum berpretasi. Aku tahu kita bukan dari keluarga berada, uang kiriman merupakan hasil jerih payah.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved