Breaking News:

Berita Surabaya

Ada Jaringan Pemalsu Surat Rapid Antigen dan Swab untuk Mudik, Kebanyakan Dipesan Penumpang Pesawat

Lima orang dibekuk jajaran Polda Jatim atas dugaan memalsukan surat kemudian menjualnya kepada warga yang ingin mudik.

Penulis: Samsul Arifin
Editor: Deddy Humana
surya/sugiharto
Subdit III Jatanras Polda Jatim mengamankan lima tersangka pemalsu surat keterangan rapid dan swab test. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Persyaratan ketat untuk pemudik di masa Lebaran Idul Fitri 2021, ternyata membuka peluang tindak kejahatan pemalsuan surat rapid test antigen dan Swab PCR. Lima orang dibekuk jajaran Polda Jatim atas dugaan memalsukan surat kesehatan itu kemudian menjualnya kepada warga yang ingin mudik.

Kelima tersangka pemalsuan yaitu NH, SG, MZA, IB dan AF diamankan Subdit III Jatanras Polda Jatim. Keempat tersangka merupakan warga Sedati Sidoarjo sedangkan AF adalah warga Petukangan, Ampel, Surabaya.

Kelima pelaku diketahui bekerja sama untuk membuat dan mencari pemesan yang memerlukan surat keterangan secara instan alias tanpa tes kesehatan. Dengan berbekal surat itu, para pemesan nantinya bisa melintasi perbatasan selama mudik tanpa pemeriksaan.

"Mereka mengatasnamakan RS Sheila Medika di Jalan by pass Juanda, untuk memalsukan surat hasil rapid antigen dan swab PCR," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko, Selasa, (11/5/2021).

Dalam menjalankan bisnis pemalsuan surat keterangan sehat itu kelimanya berbagi peran. Semua berawal dari aksi NH yang pernah bekerja menjadi office boy (OB) di RS Sheila Medika Sidoarjo. "Tersangka atau mantan karyawan rumah sakit itu punya blanko kemudian dimanfaatkan untuk membuat surat palsu," tambah Gatot.

NH kemudian mengajak AF menjalankan bisnis pembuatan surat palsu itu. Mereka berdua berperan sebagai pembuat dan penjual. Rata-rata surat keterangan dipesan untuk keperluan mudik karena sindikat itu bekerja sama dengan travel.

Selama menjalankan bisnis gelapnya, para tersangka telah mencetak 600 surat dengan harga bervariasi. Pelaku membeli Rp 100.000 untuk surat rapid test antigen, Rp 400.000 untuk swab PCR, kemudian memalsukannya sebelum menjualnya dengan harga Rp 200.000 dan Rp 650.000.

"Tiga tersangka lainnya SG, MZA, dan IB berperan sebagai marketing atau pencari pemesan. Rata-rata pemesannya adalah para penumpang pesawat dan travel," kata Gatot.

Tidak dijelaskan sudah berapa surat palsu yang telah dibeli pemesan sejauh ini. Kelima tersangka dijerat Pasal 263 ayat 1 KUHP Subsider Pasal 268 KUHP Jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama enam tahun. ****

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved