Breaking News:

Berita Sumenep

Temukan Kualitas Makanan TKI Tidak Layak, KNPI Jatim Pertanyaan Anggaran Covid-19

Nur Faisal tidak menjelaskan rinci seperti apa makanan tidak layak untuk TKI Sumenep di Asrama Haji Sukolilo Surabaya itu.

Penulis: Ali Hafidz Syahbana | Editor: Deddy Humana
surya/ali syahbana
TKI warga asal Kabupaten Sumenep yang dikarantina di di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. 

SURYA.CO.ID, SUMENEP - Banyaknya pekerja migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pulang ke Jatim, dan dikarantina sementara di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, mendapat perhatian dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Timur. KNPI mengaku prihatin bahwa fasilitas dan makanan untuk para TKI tersebut kurang layak.

Wakabid Hukum dan HAM DPD KNPI Jawa Timur, Nur faisal pun mempertanyakan penggunaan anggaran pemerintah dalam penanggulangan Covid-19.

"Tentu sangat disayangkan, kami sangat prihatin setelah melihat jatah makanan bagi TKI asal Sumenep Madura saat karantina di rumah sakit haji Surabaya, jauh dari kata layak. Kualitas gizinya rendah," kata Nur faisal, Minggu (9/5/2021).

Nur faisal dengan tegas mempertanyakan penggunaan anggaran penanganan Covid-19, sebab anggaran tersebut katanya sangat fantastis.

"Lalu digunakan untuk apa saja dana Covid-19 oleh Pemprov Jatim yang jumlahnya begitu besar dan bahkan hampir Rp 2 triliun. Kami melihat tidak seimbang dengan pelayanan bagi TKI yang dikarantina itu," ujar Nur Faisal.

Nur Faisal tidak menjelaskan rinci seperti apa makanan tidak layak untuk TKI Sumenep di Asrama Haji Sukolilo Surabaya itu. Namun ia menuding Pemprov Jatim kurang memperhatikan kesehatan dan asupan gizi para TKI yang pulang dari luar Negeri.

"Kami dalam waktu dekat akan audiensi ke pemprov terkait transparansi penggunaan anggaran Covid-19. Miris, anggaran penanganan Covid-19 dan kesehatan masyarakat sangat fantastis. Besar tetapi pelayanan terhadap para TKI yang menjalani karantina di RS Haji Sukolilo Surabaya sangat memprihatinkan," katanya.

"Mulai dari jatah makan berbuka puasa dan sahur yang ala kadarnya, jauh dari kategori baik. Sampai pada tempat karantina di mana satu kamar diisi sembilan pekerja. Lalu untuk apa saja anggaran triliunan tersebut," ujar Nur Faisal. ***

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved