Selasa, 21 April 2026

Berita Kediri

Deteksi Dini Thalasemia, Biasakan Cek Darah Sebelum Menikah

Tantangan terbesar mereka adalah rendahnya pengetahuan publik terhadap penyakit ini.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/didik mashudi
Malichatun Nafiah, bu dari dua orang penyintas Thalasemia Mayor. 

SURYA.CO.ID, KEDIRI - Malichatun Nafiah adalah Ibu dari dua orang penyintas Thalasemia Mayor.

Setiap bulan selalu mendampingi kedua buah hatinya menjalani transfusi darah.

Trayek rutin perjuangannya selama ini adalah rumah sakit besar di wilayah Kediri dan Surabaya.

Mengingat kelainan genetik ini tidak dapat disembuhkan, terapi dan pengobatan Thalasemia Mayor harus dijalani seumur hidup, yaitu dengan tranfusi darah 3 minggu sekali.

“Thalasemia adalah kelainan darah yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk memproduksi darah. Penyakit ini diturunkan oleh orangtua yang membawa sifat," jelas Malichatun Nafiah, Sabtu (8/5/2021).

Meskipun tidak bergejala, Nafiah dan suami adalah pembawa sifat (minor carrier) sehingga menurun kepada kedua anaknya sebagai penyintas Thalasemia Mayor.

Menjadi keluarga penyintas Thalasemia tidaklah mudah.

Tantangan terbesar mereka adalah rendahnya pengetahuan publik terhadap penyakit ini.

Baca juga: BREAKING NEWS Mantan Bupati Lamongan Fadeli Meninggal Dunia saat Jalani Perawatan di Surabaya

Sebagian penyintas merepresentasikan pertumbuhan yang terlambat, berperut buncit, bertulang wajah abnormal, pucat dan mudah lelah.

Keterbatasan tersebut menjadi bahan bagi perundung di sekolah, di keluarga, dan di lingkungan sosial yang lebih luas.

“Sejak ada BPJS Kesehatan, biaya berobat yang mencapai Rp 10- Rp 15 juta setiap bulannya tidak lagi menjadi beban dan tantangan. Sekarang tantangannya justru lingkungan," ungkapnya.

Pernah ada yang bilang korban santet, genetik berkualitas rendah, dan predikat buruk lain yang tidak benar.

"Anak-anak membutuhkan kondisi yang lebih kondusif untuk bersekolah dan bersosialisasi,” jelas Nafi.

Berangkat dari keprihatinannya, Nafi bersama rekan seperjuangannya mendirikan Perhimpunan Orangtua Penyandang Thalasemia Indonesia (POPTI) wilayah Kediri.

POPTI merupakan sebuah organisasi nasional yang beranggotakan keluarga penyandang dan penyintas Thalasemia di Indonesia.

Kegiatan utama POPTI di antaranya adalah edukasi pencegahan bersama pemerintah, kampanye gerakan donor darah dan donasi, serta advokasi penyintas Thalasemia.

“Berita baiknya, Thalasemia bisa dicegah. Ayo biasakan cek darah sebelum menikah. Kalaupun sudah menikah juga bisa cek darah. Bahkan sekarang ada juga deteksi dini saat bayi dalam kandungan. Intinya, datanglah ke laboratorium untuk skrining Thalasemia,” ajaknya.

Melansir laman Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, penyakit Thalasemia dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan gejalanya.

Pertama, Thalasemia Mayor dengan gejala berat yang membutuhkan transfusi darah setiap 2-4 minggu seumur hidup.

Kedua, Thalasemia Intermediate yang umumnya menderita anemia, mudah sakit, dan terkadang memerlukan transfusi beberapa kali dengan jarak waktu yang relatif lama selama hidupnya.

Terakhir, Thalasemia Minor yang penyintasnya tampak normal dan tidak bergejala.

Meskipun tampak sehat dan cenderung tidak terdeteksi, penderita Thalasemia Minor bisa mewariskan kelainan genetik yang diderita kepada keturunannya.

Setiap tanggal 8 Mei diperingati sebagai Hari thalassemia Sedunia.

Peringatan ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan terhadap penderita Thalasemia dan keluarganya agar tetap semangat menjalani pengobatan.

BACA BERITA KEDIRI LAINNYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved