Breaking News:

Berita Blitar

Keramaian Jalur Tikus Gerakkan Ekonomi Warga Pedesaan, Salah Satunya Dawet Cendol Ngrendeng

Seperti di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun yang sempat menjadi salah satu jalur mudik bagian Selatan.

surya/imam taufiq
Sariati, penjual dawet cendol di Kabupaten Blitar. 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Warga Kabupaten Blitar yang jalan desanya mendadak ramai kendaraan luar kota, mendukung penyekatan perbatasan untuk menghambat penularan Covid-19.

Hanya sebelum pemberlakuan larangan mudik Kamis (6/5/2021) lalu, ternyata sudah banyak kendaraan luar kota yang menempuh jalur-jalur tikus dan membuka harapan bagi warga di sana.

Harapan warga di desa-desa yang menjadi jalur 'pelarian' untuk pemudik itu, keramaian kendaraan bisa membuat perekonomian bergerak. Karena di desa-desa yang dilintasi, ada banyak pelaku UMKM atau home industry.

Seperti di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun yang sempat menjadi salah satu jalur mudik bagian Selatan. Di desa itu, banyak produk home industry yang cukup menjual di musim lebaran seperti ini. Di antaranya keripik jahe, permen berbagai rasa yang didominasi rasa jahenya.

"Kemarin warga kami mengaku sudah banyak yang membeli dan kebanyakan orang yang melintas dengan mengendarai mobil. Mungkin mereka pemudik yang sedang lewat," kata Wawan Aprilianto, Kades Rejoso, Kamis (6/5/2021) lalu.

Memang menjadi hal yang wajar, di mana ada keramaian lalu lintas maka akan mendorong aktivitas di sekitarnya. Tak hanya meng-encourage ekonomi rakyat kecil, namun melintasnya para pemudik sebelum 6 Mei lalu, membuat banyak produk home industry laku tanpa dipasarkan.

Karena itu di sepanjang jalur tikus di bagian Utara, warganya juga ketetesan rezeki. Mulai Desa Sumberagung, Desa Sumber Wader, Desa Ngrendeng, semuanya Kecamatan Selorejo.

Khusus di Desa Ngrendeng, ada makanan rumahan yang sudah punya nama yakni dawet gempol. Itu dawet satu-satu yang asli dari Desa Ngrendeng dan tiada duanya. Dawet khas Ngrendeng itu sudah diproduksi sejak zaman penjajahan Belanda hingga diteruskan cicitnya, Ny Sariati.

Keistimewaan dawet itu adalah punya cita rasa legit dan bentuknya khas karena cendolnya berbentuk bulat seperti pentol bakso. Sariati juga mengaku pembeli lebih banyak dari biasanya terutama di hari-hari sebelum ada penyekatan.

"Dawet itu cukup laris apalagi di bulan puasa ini, kian diburu warga buat pembuka puasa. Kemarin sudah banyak pembeli namun menurut Ny Sariati mereka bukan pelanggannya melainkan orang yang melintas. Sepertinya pembeli itu sudah mengenalnya dan ingin bernostalgia untuk kembali merasakan dawet tersebut," ujar Mashuri (52), tokoh masyarakat Desa Ngrendeng. *****

Penulis: Imam Taufiq
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved