Breaking News:

Berita Surabaya

Program Decota Jadi Terobosan Pembelajaran di Era Pandemi

Program Decota menjadi salah satu substitusi terobosan pembelajaran di Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Istimewa/Humas Unair
Kepala Program Studi (KPS) Sarjana Keperawatan, Dr Yuni Sufyanti Arief SKp MKes. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Program Decota (Video Conferencing with Universitas Airlangga) menjadi salah satu substitusi terobosan pembelajaran di Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp Unair).

Yuni Sufyanti Arief, Kepala Program Studi (KPS) Sarjana Keperawatan mengungkapkan program pengganti dari kegiatan staff inbound ini merupakan program dari Airlangga Global Scholar yang dikoordinasikan oleh Airlangga Global Engagement (AGE) Unair. Dan di dalamnya melibatkan akademisi internasional untuk memberikan kursus online, kuliah tamu online, atau klinik menulis dalam kelas seminar.

“Program DECOTA ini merupakan program dengan mengundang dosen dari mitra perguruan tinggi di luar negeri yang berperan sebagai dosen tamu untuk memberikan perkuliahan secara online pada mahasiswa Unair,” ujarnya.

Pada semester genap 2020/2021, program Decota telah terlaksana pada program studi S-1 Keperawatan untuk mahasiswa reguler semester 4 dan 6, mahasiswa alih jenis semester 2, dan program studi magister (S2) keperawatan.

Yuni menjelaskan dalam satu mata kuliah minimal ada satu topik yang diberikan oleh dosen luar negeri. Namun, saat ini belum semua mata kuliah ada pertemuan dengan dosen luar negeri dalam program Decota.

“Untuk saat ini belum semua mata kuliah ada pertemuan dengan dosen luar negeri karena masing-masing mata kuliah juga harus menyesuaikan dengan adanya keahlian yang telah dimiliki oleh dosen dari mitra perguruan tinggi luar negeri tersebut,” jelasnya.

Ditanya soal tujuan pelaksanaan program Decota, dosen yang akrab dipanggil Yuni itu menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan untuk menambah wawasan mahasiwa dari pakar keperawatan luar negeri yang tentunya berguna untuk pengembangan ilmu keperawatan.

“Mahasiswa dapat menerima ilmu dan pengalaman yang didapat dari dosen luar negeri yang tentunya expert dalam bidang keilmuannya sehingga mereka mendapatkan wawasan yang lebih luas dari para pakar dibidang keilmuan masing-masing. Mahasiswa juga bisa sharing informasi dan ilmu sesuai bidang keahliannya,” tandasnya.

Meskipun dilakukan secara online tidak mengurangi kemanfaatan dalam berbagi ilmu dan pengalaman dari dosen perguruan tinggi mitra di luar negeri.

“Untuk kebermanfatan secara langsung mungkin akan terlihat ketika mahasiswa menerapkan ilmunya di masyarakat sesuai dengan apa yang telah mereka dapatkan selama proses pembelajaran dosen ahli luar negeri,” pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved