Breaking News:

Berita Gresik

Ratusan Petani Gresik Dicatut untuk Proyek Mangrove; Diupah Rp 900 Ribu, di ATM Tersisa Rp 1.000

Padahal dalam proyek tanam mangrove tersebut ia tidak pernah absen dan tidak pernah ditawari untuk ikut menjadi petani mangrove.

surya/mochamad sugiyono
Warga yang pernah diajak menanam mangrove di Ujungpangkah Gresik menunjukan buku tabungan yang isinya sudah habis, Selasa (4/5/2021). 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Dugaan korupsi yang dilakukan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) dalam
kegiatan penanaman mangrove di pantai Ujungpangkah pada Oktober 2020, makin jelas. Itu tercermin dari pengakuan dua orang petani penanam mangrove usai diperiksa penyidik Intel Kejaksaan Negeri Gresik, Selasa (4/5/2021).

Dari informasi yang dihimpun, para petani digalang untuk menanam mangrove di pantai Ujung Pangkah dari Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Solo, pada Oktober 2020.

Dan belakangan muncul dugaan korupsi terkait kompensasi untuk ratusan petani yang dilibatkan dalam penanaman massal itu. Karena itulah, Kejari terus mendalami dugaan korupsi penanaman bibit mangrove di Desa Pangkah Kulon, Kecamatan Ujungpangkah.

Salah satu petani yang diperiksa adalah SA (26), warga Desa Pangkah Kulon. "Tadi dimintai keterangan terkait kerja tanam mangrove dan diberi upah berapa. Kerja berapa hari dan isi tabungan ada berapa," tutur SA usai pulang dari Kantor Kejari Gresik, Selasa (4/5/2021).

SA menjelaskan, ia bekerja menanam mangrove hanya selama 6 hari. Kemudian ia diberi upah Rp 900.000. Padahal di buku tabungan milik pekerja penanam mangrove diberi Rp 3 Juta. "Tetapi anehnya, di ATM saya tinggal Rp 1.000," tuturnya.

Kejanggalan lain dari proyek ini adalah absensi pekerja tanam mangrove yang diduga dipalsukan oleh Pokmaswas penanam mangrove Desa Pangkah Kulon.

Seperti disampaikan, HS (48), warga Desa Pangkah Kulon yang juga tetangga anggota Pokmaswas. HS mengatakan ia hanya dicatut namanya oleh panitia proyek tanam mangrove sehingga menerima uang Rp 500.000.

"Saya tiba-tiba diajak oleh pengurus Pokmaswas untuk mengambil uang di BRI. Ternyata hanya diberi uang Rp 500.000. Saat saya tanyakan, dilarang banyak tanya," papar Husen.

Padahal dalam proyek tanam mangrove tersebut ia tidak pernah absen dan tidak pernah ditawari untuk ikut menjadi petani mangrove.

"Saya tidak pernah ditawari ikut menanam mangrove. Tetapi kenapa bisa muncul nama saya?, Itu yang tidak saya mengerti. Saat saya tanyakan uang Rp 500,000 ini uang apa, malah dijawab agar tidak banyak bertanya," imbuhnya.

HS tidak menyebut nama anggota Poksmaswas itu. Dan para petani penanam mangrove tersebut datang ke kejari didampingi tim hukum dari Projo Gresik.

Sementara Kepala Seksi Intelijen Kejari Gresik Dimaz Atmadi Brata belum bisa dikonfirmasi terkait pemeriksaan para petani itu.

Sebagai tambahan, dalam penanaman itu ada sedikitnya 150 petani yang dilibatkan. Dan upah yang diterima dikirim via rekening BRI. Namun oleh Pokmaswas, diduga ATM diambil tanpa sepengetahuan para petani. ***

Penulis: Sugiyono
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved