Breaking News:

Berita Banyuwangi

Pernikahan Anak Berdampak Buruk, 200 Pelajar di Banyuwangi Cegah Sebayanya Keburu Menikah

Sebanyak 40 duta mengikuti langsung acara pengukuhan, sementara 160 duta lainnya mengikuti secara daring.

surya/haorrahman
Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Pribudiarta Nur Sitepu, bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengukuhkan 200 duta pencegah perkawinan anak di SMP 1 Glagah, Banyuwangi, Selasa (4/5/2021). 

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Program Ruang Rindu (Ruang Pemberdayaan dan Perlindungan Ibu-Anak) yang diciptakan Pemkab Banyuwangi, juga merealisasikan upaya pencegahan pernikahan dini atau pernikahan anak. Dan agar sosialisasi pencegahan nikah muda itu tepat sasaran, pemkab melibatkan ratusan pelajar untuk menjadi “Duta Cegah Perkawinan Anak”.

Ada 200 pelajar dari SMP dan SMA dikukuhkan sebagai duta oleh Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Pribudiarta Nur Sitepu dan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani di SMP 1 Glagah, Banyuwangi, Selasa (4/5/2021).

Sebanyak 40 duta mengikuti langsung acara pengukuhan, sementara 160 duta lainnya mengikuti secara daring.

Para duta dari perwakilan pelajar SMP dan SMA itu telah mengikuti pelatihan dengan narasumber lintas sektor, mulai Kementerian Agama, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Pendidikan.

Berbagai dampak buruk perkawinan anak dibeberkan, seperti membahayakan persalinan, resiko anak stunting, kekerasan dalam rumah tangga, hingga putus sekolah.

Bupati Ipuk menjelaskan, perkawinan usia anak (sebelum 19 tahun) masih cukup tinggi di Indonesia. Di Banyuwangi, pada 2020 terdapat sekitar 763 izin dispensasi perkawinan anak.

“Meski di Banyuwangi angkanya tidak termasuk terbesar secara nasional, tetap perlu terus kita gaungkan edukasi cegah perkawinan anak,” ujar Ipuk.

Sesuai UU Nomor 16/2009 tentang Perkawinan, batas usia perkawinan bagi perempuan dan laki-laki adalah 19 tahun. Jika kurang dari 19 tahun, maka harus mengajukan dispensasi nikah di Pengadilan.

Ipuk mengatakan, para duta tersebut bertugas menggaungkan edukasi pencegahan perkawinan anak kepada lingkungan sekitarnya. “Sengaja saya libatkan anak muda menjadi duta, karena kalau curhat dan ngobrol sesama teman sebaya kan enak. Lebih efektif dari pada kita bikin seminar-seminar yang terkesan satu arah menceramahi,” imbuh Ipuk.

Sementara Pribudiarta Nur Sitepu mengajak para pelajar yang menjadi duta untuk intensif menyosialisasikan upaya pencegahan pernikahan dini. Pribudiarta mengapresiasi langkah Banyuwangi mencegah perkawinan anak. “Ini inovasi Banyuwangi, ada duta cegah perkawinan anak. Ini bagus,” puji Pribudiarta.

Pribudiarta menjelaskan, pernikahan di usia dini akan berdampak pada kualitas hidup pasangan tersebut kelak. Pribudiarta menyebut perkawinan anak akan menurunkan kualitas hidup seseorang, karena mengganggu masa tumbuh kembang anak yang belum dewasa.

"Maka penanganannya harus bersama-sama. Saya salut di Banyuwangi anak mudanya bergerak bersama, sebagai dutanya,” tuturnya.

Bupati Ipuk menambahkan, pembentukan duta cegah perkawinan anak tersebut untuk mendukung program Ruang Rindu yang telah diresmikan Menteri PPPA, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, pada 21 April 2021.

Program Ruang Rindu merupakan inovasi yang menghadirkan penanganan perempuan dan anak korban kekerasan dari hulu ke hilir. “Termasuk kita ingin mengurangi perkawinan anak, sebagai upaya perlindungan anak dari dampak buruknya,” pungkasnya. *****

Penulis: Haorrahman
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved