Breaking News:

Vaksin Merah Putih Unair

Koordinator Riset Covid-19 Unair Prof Ni Nyoman Tri: Vaksin Merah Putih Mampu Hadapi Varian Baru

Koordinator Riset Produk Covid-19 Unair Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih Vaksin Merah Putih Mampu Hadapi Varian Baru Covid-19

SURYA.co.id, Surabaya - Koordinator Riset Produk Covid-19 dan Anggota Tim Riset Vaksin Merah Putih Unair Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih menegaskan, vaksin Merah Putih memiliki kemampuan untuk menghadapi Covid-19 varian baru.

Melansir dari situs resmi WHO, lima virus Covid-19 varian baru itu di antaranya D614G, Cluster 5, B117, B1351, dan P1.

Penelitian vaksin Merah Putih yang sedang berlangsung hingga setahun mendatang itu menggunakan strain virus yang diidap oleh pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Surabaya atau Jatim.

Itu artinya vaksin Merah Putih yang diciptakan itu nantinya menyesuaikan dengan kondisi klinis tubuh masyarakat Indonesia.

"Namun kalau dilihat secara material genetik melalui WGS karena RS Unair memang melakukan itu, RSUD dr Soetomo juga melakukan hal yang sama, sebetulnya koleksi virusnya ini bisa ada di beberapa RS yang melakukan uji pengetesan dari Covid-19 atau menangani pasien Covid-19,” ujar Guru Besar Kimia Organik Fakultas Sains dan Teknologi Unair itu, Kamis (22/4).

Wawancara lengkap dengan Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih bisa dilihat di video atas.

Selain itu, rasionalisasi mengenai kemampuan vaksin Merah Putih menangkal Covid-19 varian baru, juga dilatarbelakangi oleh temuan tim peneliti vaksin Merah Putih yang menyebut bahwa Covid-19 varian baru bernama D614G memiliki karakter genetik yang sama dengan Covid-19 varian baru lainnya.

Prof Ni Nyoman Tri mengungkapkan tim peneliti meyakini dengan menggunakan data analisis terhadap  virus varian D614G dalam proses pembuatan vaksin Merah Putih, terbilang cukup memastikan bahwa vaksin buatan Indonesia itu mampu menangkal penularan Covid-19 varian baru.

Menurut Staf Ahli Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim dr Makhyan Jibril Al Farabi, vaksin Merah Putih bakal memenuhi kebutuhan vaksin di Indonesia yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh oleh tujuh perusahaan vaksin pihak luar negeri.

Apalagi, beberapa waktu lalu, jatah stok vaksin tambahan dari AstraZeneca pesanan Indonesia harus dialihkan ke India yang kini menghadapi lonjakan kasus Covid-19 tinggi.

"Artinya memang saat ini memang kebutuhan vaksin seluruh dunia itu sebenarnya belum tercukupi oleh produk yang ada, termasuk di Indonesia," katanya saat dihubungi, Senin (3/5).

Saat ini, ungkap Makhyan Jibril, di Jatim ada sekitar lebih dua juta orang yang telah divaksin menggunakan jatah stok vaksin buatan perusahaan luar negeri tersebut.

Padahal masih ada sekitar 22 Juta orang penduduk Jatim, berusia di atas 18 tahun yang masih harus divaksin. Artinya, hanya 10 persen, jumlah penduduk Jatim yang telah divaksin.

"Masih ada peluang 90 persen yang diperoleh vaksin-vaksin baru maupun dari Vaksin Merah Putih," terangnya

Penulis: Luhur Pambudi
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved