Breaking News:

Berita Magetan

Jenang Candi Magetan Mati Suri di Awal Pandemi, Kini Suguhan Raja Jawa Itu Bangkit Kembali

Pelestari penganan ini adalah Sugiarto, pemilik rumah produksi Jenang Candi. Ia menekuni pembuatan Jenang Candi lebih dari 25 tahun.

surya/doni prasetyo
Sugiarto menjadi pewaris resep jenang Candi Magetan yang merupakan leluhur Keraton Solo, sekaligus pemilik outlet jenang candi satu-satunya yang berlokasi di Jalan Magetan - Sarangan. 

SURYA.CO.ID, MAGETAN - Kalau pernah merasakan Jenang Candi khas Magetan, pasti ingat bagaimana gurihnya penganan yang disuguhkan saat pesta pengantin atau prosesi temu pengantin itu. Para penggemar penganan tradisional kini bersyukur, Jenang Candi kembali berproduksi di tempat asalnya yaitu Desa Candi, Kecamatan/Kabupaten Magetan.

Apalagi selama bulan suci Ramadhan dan menjelang Lebaran ini, produksi jajanan khas Magetan yang resepnya dari keluarga Keraton Solo itu, meningkat hingga tiga kali lipat.

Pelestari penganan ini adalah Sugiarto, pemilik rumah produksi Jenang Candi. Ia sudah menekuni pembuatan Jenang Candi selama lebih dari 25 tahun.

Sugiarto mengungkapkan resep pembuatan jenang ini diperoleh dari leluhur Keraton Solo, dan berdomisili di Desa Candi, Magetan yang perbatasan dengan Solo, Jawa Tengah

"Penikmat jajanan khas jenang candi tidak hanya warga Magetan yang mengadakan jamuan hajatan pengantin, namun juga warga luar daerah. Mereka yang sudah pernah tahu rasa gurihnya Jenang Candi biasanya kembali membeli sungguhan para raja Jawa itu,"kata Sugiarto kepada SURYA, Selasa (4/5).

Seperti pengusaha kecil lainnya, Sugiarto pernah terkendala akibat pandemi Covid-19. Di awal merebaknya Covid-19, produksi Jenang Candi mati suri , tetapi sekarang kembali bangkit, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke Magetan dan Sarangan.

Sugiarto menuturkan, kini setiap hari ia bisa mempeoduksi 10 kali lipat dari hari biasa yang hanya satu wajan besar berdiameter 1,25 meter. Bahkan outlet Jenang Candi di depan Puskesmas setempat selalu didatangi warga dari luar daerah.

"Jenang Candi khas Magetan memang sama dengan jenang pada umumnya, namun punya cita rasa lebih gurih dan lumer dari jenang jenang khas daerah lain," jelas Sugiarto.

Selain punya cita rasa khas, taburan wijen sebagai topping jenang candi menambah gurih dan membuat peminatnya selalu rindu rasa jajanan khas ini.

Jajanan khas jenang Candi ini biasanya hanya disuguhkan saat pesta pengantin atau prosesi temu pengantin. Karena Jenang Candi dibuat dengan filosofi sebagai doa keutuhan pasangan pengantin.

Karena merupakan warisan kuliner yang sangat tua, maka mencari jajanan ini tidak mudah. Dan sampai sekarang hanya sebagian warga Desa Candi yang menekuni pembuatannya, sehingga cita rasa khasnya tidak bisa ditiru.

"Untuk membuatnya perlu kesabaran, meski bahan bakunya hanya beras ketan dan kelapa. Tetapi beras ketannya harus pilihan dan kepala harus bena-benar tua. Sehingga santan yang keluar adalah santan kanil. Santan dan beras ketan pilihan ini mempengaruhi cita rasa Jenang Candi," urai Sugiarto.

Dengan meningkatnya permintaan, tentu memberi rezeki lebih pada Sugiarto dan pembuat jenang lainnya.  Jenang Candi biasanya dijual dengan ukuran loyang, di mana satu loyang dijual Rp 38.000. Dan pesanan Jenang Candi meningkat lebih dari 300 persen selama bulan puasa dan mendekati Lebaran. ***

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved