Breaking News:

Berita Surabaya

Cabai Rawit Bikin Jatim Kepanasan, Terus Sumbang inflasi Sejak Januari 2021

Sedangkan pada Februari 2021, cabai rawit naik 10,47 persen. Kemudian Maret 2021 cabai rawit mengalami kenaikan harga 18,84 persen.

surya/fikri firmansyah
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi (kemeja putih) berkunjung ke pasar tradisional di Surabaya untuk mengecek harga bahan pangan dan bumbu dapur, Selasa (20/4/21). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Sampai April 2021 ini, Jatim masih mencatatkan inflasi sebesar 0.10 persen akibat kenaikan sejumlah bahan kebutuhan pokok selama bulan Ramadhan. Tetapi komoditas yang terus membayangi inflasi di Jatim ternyata adalah cabai rawit yang masih relatif mahal.

Bahkan selama empat bulan beruntun (Januari-April 2021), cabai terus bikin Jatim kepanasan lantaran menjadi pendorong inflasi. Seperti pada Januari 2021, komoditas mungil nan pedas itu mengalami kenaikan harga 56,89 persen

Sedangkan pada Februari 2021, cabai rawit naik 10,47 persen. Kemudian Maret 2021 cabai rawit mengalami kenaikan harga 18,84 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Dadang Hardiwan mengungkapkan inflasi ini disebabkan kenaikan harga sejumlah bahan pokok makanan selama Ramadhan seperti daging ayam ras, minyak goreng, dan tentu saja cabai merah.

Dan dari delapan kota dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim pada April lalu, semuanya kompak mengalami inflasi. “Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep yaitu 0,53 persen, sedangkan untuk inflasi terendah terjadi di Banyuwangi yakni 0,02 persen,” kata Dadang, Selasa (4/5/21).

Menurut Dadang, menjelang momen Lebaran biasanya kelompok makanan, minuman dan tembakau serta pakaian kerap punya peran pada terjadinya inflasi.

Sejumlah bahan makanan yang turut andil mendorong inflasi Jatim pada April, dikatakannya, meliputi daging ayam ras yang harganya naik 5,9 persen, ayam hidup naik 8,45 persen, cabai merah naik 10,48 persen, ketupat lontong 9,14 persen, dan minyak goreng 1,36 persen.

Tidak hanya itu, masih kata Dadang, harga semangka juga mengalami kenaikan 9,21 persen, apel naik 4,47 persen, pepaya naik 5,98 persen, lalu harga emas perhiasan 1,53 persen dan biaya pemeliharaan atau servis naik 1,2 persen.

Kemdati sejumlah bahan makanan menjadi pendorong inflasi April, masih terdapat komoditas lain yang turut menghambat inflasi atau disebut deflasi. Ada 10 komoditas pendorong deflasi, di antaranya menurunnya harga cabai rawit -26,05 persen, disusul beras -067 persen, bawang Merah -6,75 persen, tempe -1,58 persen, ikan mujair -3 persen, mobil -029 persen kangkung -4,29 persen.

Selain itu, lanjutnya, juga terjadi pada kacang panjang -7,45 persen, harga terong -5,32 persen tarif kendaraan online roda empat -1,97 persen.

Terkait menurunnya harga beras, ia mengatakan lantaran pasokan beras di Jatim berlimpah. “Harga beras yang menurun ini sejalan dengan panen raya, imbas positifnya tentu pasokan beras di Jatim melimpah. Bahkan mengalami surplus. Kondisi ini artinya baik, karena sudah dipastikan untuk beras sangat mencukupi untuk kebutuhan lebaran," pungkasnya. ****

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved