Breaking News:

DPRD Surabaya

Harus Ada Solusi Bersama Antara Sekolah dan Orangtua

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti menyaksikan simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang harus mengedepankan protokol ketat.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Parmin
surya.co.id/sugiharto
SIMULASI - Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti (berkerudung orange) menyaksikan simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang harus mengedepankan protokol kesehatan ketat, Senin (3/4/2021). 

SURYA.co.id | Saat pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) nanti, tidak saja jumlah siswa yang dibatasi, jam belajar juga akan dikurangi.

Dua pilihan, baik PTM maupun PJJ (pembelajaran jarak jauh), maksimal hanya 4 jam dalam sehari. Artinya, hanya bisa untuk dua mata pelajaran.

Selain mengatur pelaksnaan pembelajaran, juga yang mendapat perhatian adalah pascapembelajaran di kelas.

Salah satunya mewajibkan siswa harus dijemput orangtua.

Bahkan penjemputan harus sesuai jam pulang, agar anak bisa segera pulang dan tidak berkerumun di luaran.

Pihak sekolah juga diminta memastikan mengantar dan menjemput siswa.

Namun Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti melihat bahwa ada sekolah-sekolah tertentu yang siswanya dari keluarga menengah ke bawah.

Tentu tidak semua siswa bisa melakukan antar jemput sekolah. Artinya, belum bisa memenuhi syarat tersebut.

Orangtua mereka bekerja, sehingga tidak bisa mengantarkan putra-putinya ke sekolah.

Padahal, mereka termasuk orangtua yang mendukung berlangsungnya PTM tersebut.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved