Breaking News:

Dampak Pemulihan Ekonomi Global Baru Akan Terasa di Indonesia Pada Kuartal III

Pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19 secara global yang sedang berlangsung saat ini belum terlihat dampaknya di Indonesia maupun Jawa Timur.

SURYA.CO.ID/Ahmad Zaimul Haq
Ketua Forkas Jatim, Eddy Widjanarko saat meninjau pameran bangga buatan Indonesia yang digelar beberapa waktu yang lalu oleh Forkas Jatim. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19 secara global yang sedang berlangsung saat ini belum terlihat dampaknya di Indonesia maupun Jawa Timur.

Para pengusaha melihat dampak akan terasa di kuartal III tahun 2021 ini.

Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jatim, Eddy Widjanarko mengatakan ada satu titik baik terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang merupakan dampak dari pertumbuhan ekonomi global.

“Saat ini di Amerika Serikat (AS), pertumbuhan ekonominya pada kuartal I sudah bisa mencapai 6,4 persen. Hal ini sangat bagus dan memang tidak diduga dalam waktu demikian singkat, AS bisa melakukan satu pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat dalam situasi pandemi yang sangat parah,” jelas Eddy, Senin (3/5/2021).

Selain itu, faktor lain yang akan turut mengerek pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah kondisi pertumbuhan ekonomi di China yang jauh lebih besar. Untuk sektor industrinya saja mampu tumbuh 18,3 persen.

“Dan ini tentu jadi harapan kita karena dunia ini kan dikuasai 3 blok itu yakni AS, China dan Eropa, tetapi Eropa belum membaik. Namun dengan pertumbuhan ekonomi AS dan China, otomatis seluruh dunia akan terkena dampak positif, termasuk di Indonesia,” ungkap Eddy.

Hanya saja, pertumbuhan ekonomi di Indonesia di kuartal II/2021 ini masih belum bisa diharapkan banyak. Bahkan dengan adanya momen Lebaran yang umumnya tingkat konsumsi meningkat, belum terlihat adanya potensi tersebut.

Menurut Eddy, ada beberapa faktor. "Pertama, beberapa proyek pemerintah ada penundaan sehingga hanya proyek penting yang lebih dulu dikerjakan," jelas Eddy.

Kedua, adanya aturan larangan mudik ini otomatis akan membuat beberapa usaha seperti perhotelan, wisata dan UMKM akan terdampak dan akan sulit berkembang.

“Perkembangan ekonomi di masa Lebaran sepertinya gak bisa diharapkan jadi satu kegiatan ekonomi yang ada, atau mungkin tidak berjalan seperti tahun lalu, tetapi mungkin baru akan pulih mulai Agustus - September karena dampak ekonomi global karena biasanya ketika AS tumbuh bagus, kita baru terdampak setelah 6 bulan,” tandas Eddy.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved