Breaking News:

Berita Kota Batu

Banyak Pengemis Datangi Kota Batu jelang Lebaran, Ada Yang Kos Rp 600 Ribu per Bulan

Tampaknya satu keluarga ini sudah menjadikan pengemis sebagai profesi, dan mereka sudah rutin 'ngantor' di Kota Batu setiap momen Lebaran.

surya/benni indo
Hafid bersama istri dan anaknya yang berusia dua tahun mengemis di perempatan BCA, Kota Batu. Jelang Lebaran, sejumlah pengemis menyerbu Kota Batu. 

SURYA.CO.ID, KOTA BATU – Setiap Lebaran, kemunculan para gelandangan dan pengemis (gepeng) sudah menjadi pemandangan umum karena itulah momen mencari rezeki. Tidak terkecuali di Kota Batu, beberapa hari terakhir sudah terlihat banyak pengemis yang muncul di beberapa ruas jalan.

Pantauan SURYA, Senin (3/5/2021), para pengemis itu terlihat bertebaran di beberapa titik, terutama beraktivitas di perempatan jalan-jalan besar. Seperti di perempatan BCA, perempatan Lippo Plaza Batu, termasuk perempatan patung Jenderal Sudirman.

Bahkan di perempatan BCA, ada satu keluarga yang terdiri suami-istri dan anaknya yang masih berusia dua tahun. Tampaknya satu keluarga ini sudah menjadikan pengemis sebagai profesi, dan mereka sudah rutin 'ngantor' di Kota Batu setiap momen Lebaran.

Sang suami bernama Hafid asal Kabupaten Situbondo itu mengajak istrinya yang sedang sakit. Istrinya, yang tidak mau menyebutkan nama, duduk bersila dengan telapak kaki diperban pada bagian kanan.

Keluarga itu sudah dua bulan berada di Kota Batu. Ia berencana pulang ke Kabupaten Situbondo sepekan setelah Lebaran. “Setelah Lebaran ketupat pulang ke Situbondo,” kata Hafid, Senin (3/5/2021).

Hafid sengaja meninggalkan kampung halamannya dengan alasan susah mencari pekerjaan di sana. Ia pun datang ke Kota Batu dan mengaku menyewa tempat tinggal dengan tarif Rp 600.000 per bulan. “Saya tidak punya keluarga di sini,” ungkap Hafid.

SementaraKasi Pelayanan Rehabilitasi Tuna Sosial dan Advokasi Dinas Sosial Batu, Hartono menjelaskan ada 13 gepeng yang terjaring dalam razia sejak Januari lalu. Mereka yang terjaring razia lantas mendapat pembinaan.

"Empat bulan terakhir ini secara berkala dilakukan penjaringan bersama Satpol PP. Setelah diamankan, mereka langsung dikirim ke Panti Rehabilitasi Sosial milik Pemprov Jatim di Surabaya untuk menjalani pembinaan. Setelah itu, mereka dipulangkan,” kata Hartono, Senin (3/5/2021).

Diakui Hartono, para gepeng yang datang ke Kota Batu berasal dari luar daerah. Mereka malu bila menjadi gepeng di daerahnya. Maka mereka memilih tempat yang jauh dari kampung halamannya.

"Data tahun 2021 ini ada 13 gepeng, dan pada 2020 sudah kami telah menjaring 70 gepeng. Kebanyakan dari luar kota,” imbuhnya.

Dinsos Batu tengah menggodok Ranperda Penyelenggaraan Trantibum dan Perlindungan Masyarakat sehingga ada payung hukum jelas bagi pelanggar, baik penerima maupun pembeli. "Setiap Ramadhan hadirnya gepeng musiman akan lebih banyak,” pungkasnya.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Batu, M Nur Adhim menguraikan, setiap hari petugas melakukan razia. Jika menemukan ada gepeng, petugas langsung mengevakuasi. “Kami lakukan patroli setiap hari. Jika ditemukan, tentu kami tindak,” kata Adhim.

Untuk razia gelandangan atau pengemis, Satpol PP berkoordinasi dengan Dinsos Batu. Pasalnya, pembinaan pengemis menjadi tupoksi Dinsos. ***

Penulis: Benni Indo
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved