Breaking News:

Berita Surabaya

Sarjana Informatika di Malang ini Buka-bukaan Usai Jadi Jihadis ISIS

Unesa hadirkan mantan napi teroris sekaligus jihadis ISIS untuk tangkal radikalisme di kampus

SURYA.CO.ID/Sugiharto
Wildan Fauzi, mantan napi teroris dan mantan jihadis ISIS Suriah saat berdiskusi dengan akademisi Unesa dan tokoh lain dalam Webinar Nasional "Bersihkan Hati Lawan Radikalisme," Jumat (30/4/2021). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Pusat Pembinaan Ideologi (PPI) di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), terus bergeliat melawan penyebaran radikalisme di kampus. Mereka pun menghadirkan mantan napi teroris (Napiter) di Unesa.

Mantan Napiter kelahiran Bangil, Pasurua, Wildan Fauzi (29) alumnus sebuah kampus swasta kenamaan di Malang ini adalah anggota ISIS Suriah. 2013-2014 menjadi anggota militan di Suriah.

Sarjana Teknik Informatika yang pandai IT ini mengaku pernah menjadi petugas medis di Suriah.

Saat bom Tamrin, dia dikait-kaitkan. Akhirnya pada 2016, Wildan yang bertampang Timur Tengah ini ditangkap. Delik Suriah menghantarkan Wildan hidup dibui selama 3,5 tahun .

"Seharusnya masyarakat Indonesia itu bersyukur. Hidup tidak dalam suasana perang. Kehidupan sangat toleran. Mau ibadah apa saja tidak dimusuhi," ucap Wildan, saat ditemui di Unesa, Jumat (30/4/2021) kemarin.

Wildan menjalani masa hukuman lebih cepat dari vonis pengadilan 5 tahun.
Wildan yang semasa kuliah aktif di pengajian itu mengaku, banyak hikmah yang didapat. Wildan yang terpisah dengan istri dan satu anaknya ini menyebut ada dua hal di Indonesia terkait radikalisme.

"Masalah radikal muncul karena paham yang salah, atau bisa juga karena masyarakatnya salah paham," kata Wildan saat tampil dalam Webinar Nasional "Bersihkan Hati Lawan Radikalisme" Unesa.

Dengan pemerintah menjamin warganya bebas beribadah, mestinya harus disyukuri. Wildan merasakan sendiri kehidupan di Suriah yang terus dilanda perang.

Jika tidak ada penguatan keyakinan dan kesadaran pemahaman, era digital saat ini sangat rentan bagi kaum muda.

Radikalisme masuk lewat pergaulan dan bisa pula lewat media sosial. Menurutnya, media sosial justru lebih berbahaya.

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved