Breaking News:

Berita Bondowoso

Pandemi Tak Pupuskan Renyahnya Kerupuk Rambak, Malah Banjir Pesanan Jelang Lebaran

"Bahkan kami sampai kewalahan memenuhi pesanan. Sebab, kami kerap kekurangan bahan baku," kata Sutini, Jumat (30/4).

surya/danendra kusumawardana
Seorang pekerja UD Rambak Jaya di Bondowoso menjemur kulit sapi yang telah direbus dan dibersihkan, Jumat (30/4). 

SURYA.CO.ID, BONDOWOSO - Selalu ada peluang untuk yang bekerja keras meski di masa sulit. Tekanan pandemi Covid-19 ternyata tidak membuat usaha kerupuk rambak di Bondowoso ikut remuk, sebaliknya pesanan makin meningkat dua pekan menjelang Lebaran.

Padahal usaha rumahan itu tidak memanfaatkan penjualan secara online seperti kebiasaan era milenial sekarang.  Salah satunya adalah UD Rambak Jaya yang berlokasi Desa/Kecamatan Maesan.

Saat SURYA mengunjungi rumah produksi kerupuk rambak itu, sejumlah pekerja tampak sibuk mengolah kulit sapi. Ada yang membersihkan bulu pada kulit sapi yang telah direbus. Pekerja lain bertugas menjemur kulit yang sudah dibersihkan di halaman rumah.

Pemilik usaha tambak UD Rambak Jaya, Sutini (50) mengatakan, menjelang lebaran pesanan rambak mulai meningkat dua kali lipat. Terhitung Jumat (30/4/2021) ini, pesanan rambak sudah mencapai 30 KG. Padahal di luar momen Lebaran, penjualan rambak sapi rat-rata hanya sekitar 15 KG per hari.

"Bahkan kami sampai kewalahan memenuhi pesanan. Sebab, kami kerap kekurangan bahan baku," kata Sutini, Jumat (30/4).

Sementara ini, Sutini tidka memasarkan produk rambak secara online. Pelanggan langsung membeli rambak sapi dengan datang ke rumah produksi UD Rambak Jaya. "Pembeli rambak mayoritas dari Situbondo dan Jember. Terkadang, mereka membeli untuk dijual kembali. Bahkan dijual di expo UMKM," ungkapnya.

Dalam sehari ,kata Sutini, pihaknya bisa memproduksi rata-rata 0,5 kuintal kulit sapi. Harga kulit sapi dibanderol Rp 15.000 per KG. Sehingga dalam produksi sehari ia membutuhkan biaya Rp 750.000.

Dari 0,5 kuintal kulit sapi itu, bisa menghasilkan 13 KG rambak kering siap goreng. Ia juga menjual rambak yang sudah siap konsumsi. "Harga rambak kering siap goreng dipatok Rp 120.000 per KG. Sementara kulit sapi yang dijemur dua hari, dipatok Rp 100.000 per KG," sebutnya.

Ia menambahkan, bahan baku kulit sapi dibeli dari rumah jagal di Maesan dan Jember. Tetapi tidak semua kulit sapi bisa dijadikan rambak. "Hanya kulit sapi jantan yang bisa dijadikan kerupuk. Kalau kulit sapi betina tidak bisa mengembang saat digoreng," tambahnya.

Terlepas dari bentuknya yang tidak menarik dan kadang rapuh, ternyata memproduksi rambak sapi hingga siap goreng membutuhkan waktu yang cukup lama dan tidak mudah. Pembuatan rambak juga bergantung pada cuaca.

Ia menjelaskan, pertama-tama kulit sapi direbus dengan air mendidih selama 5 jam di malam hari dan didiamkan. Kemudian paginya dicuci lagi dan dibuang bulunya hingga betul-betul bersih.

Kulit sapi tersebut tidak bisa didiamkan terlalu lama. Kalau terlampau lama atau lebih dari satu hari bulunya sulit dipisahkan. "Kemudian diiris tipis-tipis, dan dipotong sesuai kebutuhan. Ada yang ukurannya memanjang dan dipotong kecil-kecil berbentuk persegi," urainya.

Proses selanjutnya adalah penjemuran. Butuh waktu 5 hari dalam proses penjemuran agar rambak betul-betul siap goreng. "Dalam sehari itu cuaca harus betul-betul terik. Karena jika dalam masa dua hari selama proses jemur ada mendung atau hujan, maka rambak bisa pahit. Gurih dan renyahnya rambak dipengaruhi cuaca juga," terangnya.

Usaha rambak sapi UD Rambak Jaya milik Sutini merupakan usaha turun temurun dari orangtuanya. UD Rambak Jaya ini berdiri sekitar belasan tahun lalu. "Semoga usaha rambak sapi ini bisa panjang umur dan terus berkembang," pungkasnya. ***

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved