Breaking News:

Berita Malang Raya

Presiden Jokowi Kaget 1 Hektare Hasilkan 12 Ton Gabah, Kades Kanigoro Beberkan Rahasianya

Presiden RI ketujuh itu sempat kaget mengetahui kalau satu hektare sawah di Kanigoro dapat memproduksi 12 ton gabah.

surya/benni indo
Seorang petani sedang mengayak gabah hasil panen lahan milik keponakannya di Desa Kanigoro, Kamis (29/4/2021). 

SURYA.CO.ID, MALANG – Kepala Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Sudha merasa senang karena Presiden RI, Joko Widodo berkunjung ke desanya untuk mengikuti panen raya, Kamis (29/4/2021). Dikatakan Sudha, warganya memang banyak bekerja sebagai petani. Hasil bumi dari Kanigoro antara lain padi dan tebu.

Sebelum didatangi Jokowi, Bupati Malang, HM Sanusi juga sudah panen di Kanigoro. “Yang diutamakan padi. Padinya kan dari pendampingan Institut Pertanian Bogor (IPB),” paparnya, Kamis (29/4/2021).

Kanigoro memiliki lahan persawahan seluas 505 hektare. Berdasarkan data dari Pemerintah Desa Kanigoro, ada 1.950 orang yang menjadi petani di desa itu. Buruh tani sebanyak 881 orang, peternak sapi 40 orang, peternak kambing 15 orang.

Sudha turut serta menghadiri acara yang didatangi Jokowi untuk panen raya. Dikatakannya, Presiden RI ketujuh itu sempat kaget mengetahui kalau satu hektare sawah di Kanigoro dapat memproduksi 12 ton gabah.

Menurut Sudha, keberhasilan menghasilkan 12 ton gabah itu adalah salah satu keunggulan desanya. “Kami mendapat pendampingan dari IPB, sehingga ada hasil 12 ton per hektare,” paparnya.

Ada 6 hekatre lahan demonstration plot (demplot) yang digunakan oleh IPB di Kanigoro. Keberhasilan memproduksi gabah dengan jumlah banyak ini akan ditindaklanjuti dengan perluasan Demplot hingga 111 hektare.

Diyakini Sudha, keberhasilan itu juga berkat kekompakan masyarakat, terutama petani. Sudha berharap petani di desanya bisa lebih maju dalam teknik pertanian, terutama dengan masukan dari perguruan tinggi. Katanya, banyak ilmu yang dapat diperoeah sehingga bisa menyejahterakan masyarakat.

Sementara Nevianti Rosita, utusan dari IPB yang mendampingi petani di Kanigoro menjelaskan, pihaknya mulai melakukan pendampingan di Kanigoro sejak Agustus 2020. Pada Desember 2020 dilakukan penyemaian lalu pada Januari 2021, dilakukan penanaman dan panen pada April 2021.

Sekitar 6 hektare demplot yang digunakan, awalnya ditanami bermacam-macam varietas padi, yakni Cibogo, Ciherang, IR 64, Inpari 62 dan IPB 3S. Namun yang terlihat berhasil dan cocok di Kanigoro adalah IPB 3S.

“Dari uji coba ini hasilnya banyak, kemudian dilihat dari hama penyakit. Dari percontohan kemarin memang di demplot lahan IPB 3S hasilnya paling bagus ditanami dengan sistem jejar legowo. Kemudian hasilnya bisa mencapai 12 ton per hektare,” terang Nevianti.

Varietas IPB 3S cukup kuat terhadap hama tanaman padi. Nevianti mengatakan, IPB 3S tetap bisa terserang, namun dampak serangan hama tidak begitu buruk. Kharakter tanaman padinya adalah padi sudung, daunnya naik ke atas sehingga buah padi yang dihasilkan banyak.

“Bulir padi terisi dengan penuh, kemudian juga padi ini tidak cepat rontok ketika dipanen. Jadi kemungkinan kehilangan hasil lebih sedikit. Pada dasarnya padi ini ditanamnya harus secara banyak, tidak bisa dengan sistem sedikit. Istilahnya dalam satu lubang harus lima sampai tujuh bibit padi,” katanya. ****

Penulis: Benni Indo
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved