Breaking News:

Berita Pasuruan

Menengok Sektor Padat Karya di Pasuruan Setelah Cukai Rokok Tidak Jadi Dinaikkan

Keputusan Menkeu Sri Mulyani yang mengurungkan menaikkan tarif cukai hasil tembakau mendapat respons positif.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Galih Lintartika
Para pekerja SKT di CV Cesa Jaya Tobacco di Pasuruan saat melinting rokok. 

SURYA.CO.ID, PASURUAN - Keputusan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mengurungkan niat menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) mendapat respons positif.

Keputusan ini berdampak baik bagi keberlangsungan dan keberlanjutan sektor padat karya SKT di wilayah Kabupaten Pasuruan. Banyak perusahaan yang sempat terancam gulung tikar paska rencana kenaikan cukai rokok SKT.

Soni Prabowo, Operasional CV Cesa Jaya Tobacco mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang peduli akan sektor padat karya dan keberlangsungan karyawan yang ada dk dalamnya.

"Ya baguslah. Dengan tidak naiknya cukai SKT, membuat sektor padat karya di wilayah sekitar pabrik ini sangat baik. Tenaga kerja linting rokok jadi masih bisa bekerja sehingga menunjang perekonomian mereka," katanya, Kamis (29/4/2021).

Di sisi lain, kata dia, hal ini juga membantu pemerintah untuk mengurangi pengangguran. Menurutnya, tenaga kerja atau buruh linting bisa bernapas lega ketika cukainya tidak dinaikkan.

"Dengan tidak naiknya cukai SKT, maka harga rokok di pasar juga tidak naik. Sehingga permintaan di pasar saat ini mening¹kat otomatis pekerja linting juga masih dapat bekerja. Apalagi di era pandemi ini sangat susah untuk mencari kerja," paparnya.

Ia secara pribadi sangat setuju sekali atas kebijakan yang diambil menteri kali ini, karena sektor SKT ini yang dapat mengakomodasi ratusan bahkan ribuan pekerja linting rokok.

"Seperti yang kita ketahui di era pandemi ini sangat menekan perkonomian masyarakat. Sektor padat karya SKT inilah salah satu yg menunjang perekonomian masyarakat," tambahnya.

Ia menyebut, ini adalah bukti bahwa pemerintah melakukan perlindungan terhadap pekerja, khususnya pekerja rokok kretek.

"Kami sebagai pengusaha rokok kretek juga akan berusaha supaya bisa merekrut tenaga kerja yang baru," urainya.

Sekadar informasi, Menteri Keuangan Sri Mulyani menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok pada 2021 nanti dengan kenaikan rata-rata sebesar 12,5 persen.

Hanya SKT yang tidak dinaikkan dengan alasan merupakan industri padat karya yang menyerap paling banyak tenaga kerja dibandingkan golongan rokok lainnya.

CHT yang dinaikkan adalah jenis Sigaret Putih Mesin (SPM) golongan I sebesar 18,4 persen.

SPM golongan IIA naik sebesar 16,5 persen. Lalu, untuk SPM golongan IIB naik 18,1 persen.

Untuk SKM golongan I naik sebesar 16,9 persen. SKM golongan IIA naik 13,8 persen. Kemudian, SKM golongan IIB naik sebesar 15,4 persen.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved