Breaking News:

Virus Corona

Sosok Mafia Bandara Soekarno-Hatta, Bermodal Kartu 'Sakti' Bebaskan WNI dari India Lolos Karantina

Dua mafia Bandara Soekarno-Hatta memiliki hubungan ayah dan anak, yakni S dan RW ditangkap polisi setelah meloloskan WNI dari India bebas karantina.

kompas.com/kristianto purnomo
Foto ilustrasi. Suasana di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (9/8/2016). 

SURYA.co.id | JAKARTA - Dua mafia Bandara Soekarno-Hatta memiliki hubungan ayah dan anak, yakni S dan RW ditangkap polisi setelah meloloskan WNI dari India bebas karantina. Padahal, saat ini India sedang mengalami 'tsunai' corona setelah jumlah kasus di sana meningkat drastis.

S dab RW bisa bebas keluar masuk bandara. Bahkan, dia meloloskan seorang WNI berinisial JD dari kewajiban karantina selepas dari India.  Untuk bebas keluar masuk bandara, S dan RW mengantongi 'kartu sakti' semacam kartu identitas.  Agar terbebas dari kewajiban karantina, JD membayar Rp 6,5 juta. Urusan pun beres. 

"Kalau pengakuan dia (S) kepada JD, dia adalah pegawai bandara. Ngakunya doang. Dia sama anaknya. RW itu anaknya S," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Yusti Yunus, Rabu (28/4/2021).

S dan RW berperan membantu JD lolos dari prosedur karantina Covid-19 selama 14 hari.

Kapolres Bandara Soetta Kombes Pol Adi Ferdian Saputra menyatakan, kedua orang tersebut menggunakan kartu pas Dinas Pariwisata DKI Jakarta.

"Kalau dari pass bandara yang ada pada mereka, tertera di pass bandara tersebut 'Dinas Pariwisata DKI'," ungkap Adi seperti dilansir Tribunnews.com (grup SURYA.co.id).

Sebagai informasi, kartu pas bandara merupakan tanda izin masuk daerah terbatas pada Bandar Udara. Kartu tersebut diterbitkan oleh Kantor Otoritas Wilayah pada masing-masing bandara.

S dan RW punya keterkaitan dengan instansi lain

Ketua Satuan Tugas (satgas) Udara Penanganan Covid-19 Bandara Soetta, Kolonel Pas MA Silaban, mengatakan bahwa kedua terduga mafia karantina tersebut bukan petugas bandara. S dan RW, menurut Silaban, adalah oknum yang memiliki kepentingan dengan instansi lain di bandara. Oleh karena itu, mereka memiliki kartu akses keluar masuk bandara.

"Mereka memiliki kartu pas bandara, dan mereka tidak bertanggung jawab. Mereka justru melakukan penyalahgunaan kartu pas bandara," ujar Silaban dalam keterangan resminya, Selasa (27/4/2021).

Halaman
12
Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved