Breaking News:

Berita Magetan

Cari Dana Segar untuk Musim Tanam, Ratusan Petani di Magetan Rutin 'Sekolahkan' Tracktor

Seperti terlihat di gudang Perum Pegadaian, Tebon, Kecamatan Barat Magetan, terlihat 200 unit hand tracktor terparkir rapi.

surya/doni prasetyo
Ratusan mesin bajak tangan (hand tracktor) milik petani terparkir di gudang Perum Pegadaian Tebon, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. Menjelang musim tanam, para petani suka menggadaikan barang. 

SURYA.CO.ID, MAGETAN - Memborong barang mahal saat panen tetapi menjualnya lagi saat mendekati masa panen, seperti lingkaran setan yang dilalui para petani di Indonesia. Meski, siklus 'menyekolahkan' (menggadaikan) barang berharga saat menjelang masa tanam itu masih menjadi cara pintar agar petani bertahan.

Tidak berbeda dengan di Kabupaten Magetan, banyak petani yang menggadaikan bajak tangan (hand tracktor) agar bisa mendapat dana segar untuk membeli berbagai kebutuhan pada musim tanam.

Seperti terlihat di gudang Perum Pegadaian, Tebon, Kecamatan Barat Magetan, terlihat sekitar 200 unit hand tracktor sudah terparkir rapi. Semua itu adalah peralatan bercocok tanam yang digadaikan petani untuk biaya tanam.

Rata-rata petani menggadaikan hand tracktor antara Rp 5 juta - Rp 10 juta, dengan jangka waktu penitipan empat bulan. Pinjaman atau jaminan Rp 10 juta dengan jaminan hand tracktor itu, bisa untuk membeli bibit, pupuk, obat tanaman, dan biaya tanam kedua ini.

Kasidi, salah seorang petani di Kecamatan Barat mengakui bahwa hand tracktor itu adalah barang berharga satu-satunya yang dimiliki.

"Saya masukkan (gadaikan) mesin bajak ini senilai Rp 10 juta untuk biaya tanam. Jangka waktuya hanya empat bulan," kata Kasidi kepada SURYA, Rabu (28/4).

Menurut Kasidi, mesin bajak itu digadaikan setelah digunakan membajak tanah yang akan ditanami padi di penghujung musim tanam kedua ini. "Mesin ini saya gunakan membajak tanah sawah dulu. Setelah itu kita istirahatkan di garasi Perum Pegadaian Tebon ini. Dan empat bulan lagi setelah panen ya kita tebus," ujar Kasidi.

Memilih Perum Pegadaian, tambah Kasidi, karena prosesnya cepat, tidak perlu survey, seperti pinjam di bank. Hanya persyaratan KTP asli, bawa barang jaminan, seperti perhiasan emas, motor, mesin bajak.

"Karena mesin bajak ini barang berharga satu-satunya, yang saya miliki. Ini saya jadikan pinjaman untuk modal bertani, di musim tanam kedua ini. Selain dijadikan jaminan, biar awet disimpan di garasi pegadaian ini,"kata Kasidi.

Kepala Perum Pegadaian Magetan, Ibtina Martalia mengatakan, petani lebih memilih pegadaian karena pencairan dana cepat. Asalkan ada jaminan yang nilainya setara dana yang dibutuhkan atau dipinjam nasabah.

"Setiap menjelang musim tanam, sekitar 200 petani menggadaikan mesin bajaknya. Petani memilih pegadaian untuk biaya tanam, karena tidak ribet, langsung cair. Ada barang jaminan, KTP, dana langsung cair, tentu saja setelah proses taksiran,"kata Ibtina Martalia.

Dikatakan Ibtina, bunga 1,2 per lima belas hari selama jangka waktu empat bulan, masih terjangkau dan sangat membantu. "Petani yang sudah melunasi pinjamannya, bisa menggadaikan mesin bajaknya kembali untuk mendapakan pinjaman dana langsung cair. Tidak ada ribet," tambahnya. ****

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved