Breaking News:

Hikmah Ramadan 2021

Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Jatim, Noor Shodiq: Puasa vs Kebangkitan Wirausaha

Hikmah Ramadan 2021. Noor Shodiq Askandar Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Jawa Timur, Wakil Rektor Unisma Malang

MUI Jatim
Noor Shodiq Askandar, Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Jawa Timur, Wakil Rektor Unisma Malang 

Sudah beberapa hari ini ummat Islam memasuki bulan yang sangat dimulyakan oleh Allah swt.  Bulan dimana Allah swt menurunkan banyak rahmad, memberikan ampunan atas kesalahan yang dilakukan, dan kemudian membebaskan ummat yang berpuasa dengan baik dari panasnya api neraka.

Tidak heran jika kemudian ummat Islam menyambutnya dengan gegap gempita kegembiraan karena sudah menunggunya sedemikian lama. Bahkan dua bulan berturut turut sejak memasuki bulan rajab, setiap hari berdoa agar memperoleh keberkahan bulan rajab, sya’ban dan kemudian dipertemukan dengan Ramadhan karim.

Dalam bulan Ramadhan pula Allah swt menurunkan Al Qur’an sebagai pedoman utama ummat Islam agar dapat menjalani kehidupan yang selamat baik di dunia maupun akhirat. Al Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi ummat manusia baik dalam hubungan dengan Allah swt, hubungan dengan sesama ummat manusia, maupun hubungan dengan alam (hablum minallah, hablum minannas, wahablum minal ‘alam).

Kemuliaan Ramadhan ditandai pula dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang disebut juga sebagai lailatul qodar. Malam yang ditunggu oleh seluruh ummat Islam untuk menemuinya. Beragam cara dilakukan baik dengan meningkatkan amal ibadah, amal sedekah, maupun amal lainnya yang dipandang dapat memberikan manfaat. Tidak ada satupun yang kemudian tidak ingin bertemu dengan malam tersebut, karena keberkahan yang dapat diperoleh manakala dapat menemuinya.

Ramadhan dan Tumbuhnya Wirausaha

Disamping banyak keutamaannya, Ramadhan juga banyak mendatangkan keberkahan bagi ummat manusia, khususnya yang bergerak dalam dunia usaha. Bagi Sebagian besar ummat Islam di dunia, dan khususnya Indonesia, kedatangan Ramadhan tidak hanya disambut dengan gembira, akan tetapi juga ditandai dengan banyak hal.

Pertama, rasanya Ramadhan tidak afdlol jika tidak disambut dengan segala pernak pernik yang baru. Baju baru, sarung baru, celana baru, dan sejenisnya. Pendek kata semua harus serba baru, agar dapat menunjang penampilan saat Ramadhan. Apalagi kemudian ditunjang dengan kebiasaan lebaran yang juga serba baru.

Kedua, datangnya Ramadhan juga ditandai dengan peningkatan dan perubahan pola konsumsi masyarakat dalam kehidupan sehari hari. Hal yang terjadi kemudian, dimana mana permintaan akan kebutuhan pokok meningkat. Yang biasanya makan cukup dengan tahu tempe, kini harus meningkat ke lauk telor, ikan, dan daging.

Ketiga, saat Ramadhan masyarakat juga merubah pola makannya. Buah buahan yang asalnya tidak mesti dikonsumsi, kini menjadi sajian wajib saat pertama kali dikumandangkan adzan maghrib sebagai ta’jil. Seakan terasa tidak lengkap, jika tidak ada cemilan yang disediakan sebagai sajian pembuka.

Bagi seorang yang berprinsip wirausaha, kondisi ini tentu merupakan peluang besar untuk dapat memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan tersebut. Permintaan yang meningkat adalah peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar. Apalagi jika suplay barang, sementara disisi lain permintaan mengalami peningkatan, tentu harga akan juga ikut melambung.

Halaman
12
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved