Breaking News:

Hikmah Ramadan 2021

Wakil Sekretaris MUI Jatim, Fauzi Palestin: Ramadhan Sebagai Madrasah Kesabaran

Hikmah Ramadan 2021 dari MUI Jatim. Hari ini disampaikan Fauzi Palestin, Wakil sekretaris MUI Jatim dan Dosen STAI Syaichona Cholil Bangkalan

MUI Jatim
Fauzi Palestin, Wakil sekretaris MUI Jatim dan Dosen STAI Syaichona Cholil Bangkalan 

Alur kehidupan manusia kadang tak berjalan sesuai apa yang diharapkan, baik berkenaan dengan pekerjaan, kesehatan, dan lain sebagainya. Dalam ranah hablun minannas (hubungan sesamamanusia) juga demikian, pada saat tertentu manusia di hadapkan pada situasi dimana ia tidak nyaman atas segala keadaan. Pun yang kaitannya dengan hablun minallah (hubungan dengan manusia dengan Allah), manusia harus benar-benar mampu melaksanakan asas ketaatan kepada Rabnya. Sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan, dan sabar atas manusia dalam keburukannya. Demikianlah agama mengajarkan tentang kesabaran.

Ramadhan hadir bagi kehidupan manusia beriman tentu sarat dengan perenungan dan pembelajaran. Di antaranya, Ramadhan dapat dijadikan sebagai madrasah kesabaran bagi kehidupan. Ali Ahmad al-Jurjawi, salah seorang ulama Mesir, mengungkapkan: ”Puasa ditetapkan pada siang hari dan manusia sibuk dengan berbagai aktifitasnya lebih memberatkan terhadap jiwa dan raga disitu seseorang mendapatkan pahala yang agung di hadapan Allah. Sementara andai puasa diwajibkan pada malam hari, manusia tidak menjumpai perjuangan lebih karena malam hari itu pada wajarnya di gunakan untuk beristirahat.”

Dalam proses ibadah puasa manusia, bukan berarti ia harus meninggalkan tanggung jawabnya sebagai apapun ia. Sebagai kepala rumah tangga yang harus menafkahi keluargnya, sebagai pejabat Negara yang harus memnuhi segala tugas- tugasnya, dan lain sebagainya. Puasa bukanlah penghalang atas segala kewajiban itu semua. Tapi tentu jangan sampai tidak berpuasa hanya ingin memperjuangkan kewajibannya. Lapar dan dan dahaga pada siang hari bersamaan dengan tugas dan kewajibannya sebagai manusia. Tak hanya itu, ia harus menjaga pandangannya, qalbunya, pendengarannya, dan tentu lisannya dari segala hal yang menodai terhadap puasanya.  Di lingkup inilah puasa punya makna perjuangan yang cukup tinggi untuk mewujudkannya. Rasa berat itulah menurut al-Jurjawi yang menyebabkan seseorang mendapatkan pahala yang besar dan ampunan yang abadi dari Allah.

Malam hari juga demikian. Setelah menikmati hidangan buka puasa, panggilan isya mengagetkannya karena ia tak hanya melaksanakan shalat isya saja tapi mesti dilanjutkan dengan shalat tarawih. Kendati hukumnya sunah, sangatlah merugi jika di bulan Ramadhan tidak melaksnakan ibadah tarawih. Kemudian pada dini hari, di bulan Ramadhan juga disunahkan melaksanakan makan sahur. Kalaupun acaranya adalah makan dan minum, ini tak biasa di laksanakan pada hari-hari di luar Ramadhan. Selain agar bugar dan kuat ketika berpuasa, dalam sahur ada keberkahan. Nabi menyatakan: ”Bersahurlah kalian karena di dalamnya ada keberkahan.”

Dari instrumen Ramadhan di atas, sungguh betapa Ramadhan dengan segala aktivitas jasmani dan rohani tersebut memberikan pelajaran kepada kita tentang kesabaran dalam mengarungi kehidupan untuk dapat menjalankan segala ajaran sekaligus menjauhi segala larangan. Dalam segala dimensi alur kehidupan manusia, hendaknya kesabaran selalu melekat dalam dirinya. Menjadi prinsip bagi kehidupannya. Dan menjadi prisai dalam kesehariannya. Dari kesabaran itu, manusia dapat menjadi hamba yang dicintai oleh Allah. Maka, sangat tepat kiranya kalau kita memposisikan “Ramadhan sebagai madrasah kesabaran”

Tulisan ini ditulis oleh: Fauzi Palestin, Wakil sekretaris MUI Jatim dan Dosen STAI Syaichona Cholil Bangkalan

Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved